Masih seputar short drama Wang Yi Ran berjudul "Fiece Love" yang dia bintangi bersama si cantik Zuo Yi. Berbeda dengan peran-peran sebelumnya yang pernah dia mainkan yaitu CEO tampan yang angkuh dan dingin, dalam short drama ini, Wang Yi Ran berperan sebagai seorang pengawal bernama Qin Yang (dibaca: Chin Yang) yang sebenarnya adalah seorang mata-mata yang ditugaskan untuk memata-matai dan mengambil sebuah dokumen berharga milik sang Nona Besar, Lan Yan Xi (Zuo Yi) atas perintah Lan Qi Tao (dibaca: Lan Chi Tao).
Karakternya yang beda dari stereotype CEO yang biasanya dia mainkan, memberikan kesan yang lebih segar dan menantang. Wang Yi Ran yang berperan sebagai pengawal bernama Qin Yang (dibaca: Chin Yang), berhasil menghidupkan karakter Qin Yang yang polos, lugu, tak banyak bicara, pemalu, setia, menggemaskan namun berani dan rela berkorban demi wanita yang dia cintai. Dia rela terluka berkali-kali demi menyelamatkan Sang Nona Besar, Lan Yan Xi (Zuo Yi). Tak salah jika aku sangat menyukai karakternya dalam short drama ini. Bagiku, pengawal Qin Yang (保镖 秦阳) adalah karakter ter-memorable alias paling berkesan dari semua peran yang pernah dia mainkan selama ini. 這算是王奕然今年2025最好的一部劇情了!❤❤好看,推推🎉🎉好看 推一個! 這部電影很棒,兼具幽默和情感。"Fiece Love" adalah drama terbaik Wang Yi Ran sepanjang tahun 2025 dan bahkan drama terbaik Wang Yi Ran sepanjang masa ❤❤
Judul: Fiece Love (炽宠/Chì chǒng)
Starring:
Wang Yi Ran sebagai Qin Yang/Gu Ming Chen.
Zuo Yi sebagai Lan Yan Xi.
Durasi total: 2 jam 44 menit.
Rilis: 24 November 2025.
Kebangsaan: China.
Drama dibuka dengan adegan penculikan seorang pewaris tunggal Gu Corporation, bernama Gu Ming Chen (Wang Yi Ran) yang dilakukan oleh Lan Yan Xi (Zuo Yi). Lan Yan Xi bersikeras mengatakan bahwa Gu Ming Chen adalah Qin Yang (dibaca: Chin Yang), pengawal pribadi sekaligus kekasihnya yang telah hilang selama tiga tahun lamanya. Gu Ming Chen yang merasa tidak pernah bertemu dengan Lan Yan Xi sebelumnya, mengatakan dengan tegas bahwa dia adalah Gu Ming Chen dari Gu Corporation dan bukan Qin Yang, pengawalnya yang hilang.

Pertama kalinya adalah dengan dalih "tugas", ketika mobil yang dinaiki oleh Lan Yan Xi dan Qin Yang dihentikan paksa oleh bos mafia lain, yaitu bos He. Karena kalah dalam jumlah orang dan tak bisa melawan secara terbuka, Lan Yan Xi memutuskan untuk ikut dengan mereka dan mengulur waktu hingga dia bisa memanggil orang-orangnya datang untuk menyelamatkan mereka berdua.
Qin Yang yang awalnya bingung pun akhirnya patuh dan ikut berakting dengan sang Nona apalagi melihat sang Nona yang lebih dulu menciumnya, dia pun tak punya pilihan lain dan memutuskan untuk mengikuti permainan.
Sepasang insan yang sudah terbakar nafsu itu bahkan masih berciuman panas di bawah shower walaupun alat pelacak sudah berhasil terpasang. Sang Nona pun tak segan-segan meminta ciuman tambahan ketika Qin Yang menghentikan ciuman mereka karena alat pelacak sudah berfungsi. Saat Qin Yang diam saja dan tampak seperti menolak, Lan Yan Xi tiba-tiba mencuri ciuman darinya sebelum berlari pergi, meninggalkan Qin Yang dengan perasaan yang campur aduk. (Emang aslinya yang demen nyosor itu si Nona kok).
Untungnya ada Lan Yan Xi yang tiba-tiba muncul untuk menyelamatkannya saat dia dikejar-kejar oleh para pengawal pria jahat itu. Lan Yan Xi lagi-lagi meminta Qin Yang menciumnya untuk mengalihkan perhatian. Lan Yan Xi berpura-pura sedang bermesraan dengan kekasihnya untuk mengelabui para pengejar agar tidak lagi mencari Qin Yang, karena para penjahat itu tentu tidak berani mengganggu Nona Besar Lan yang sedang bermesraan dengan kekasihnya.
Qin Yang yang tak punya pilihan pun lagi-lagi mengikuti permainan itu dan sekali lagi sepasang insan itu terlibat dalam ciuman panas penuh gairah. Namun kali ini sepertinya Qin Yang sudah mulai menggunakan hatinya karena dia tampak menikmati ciuman itu.
Untuk menghukum keponakannya karena selalu membuat masalah, Lan Yan Xi memutuskan untuk memecat Lan Qi Tao dari posisi Presdir dan mengangkat dirinya sendiri untuk menggantikan posisi sang keponakan, dengan menggunakan fakta bahwa Lan Qi Tao bekerja sama dengan anggota mafia untuk menjebak Tiya Corporation agar terlibat dalam skandal pencucian uang yang akan merugikan perusahaan.
Lan Yan Xi dengan percaya diri mengatakan bahwa dia tahu kalau Qin Yang sebenarnya diam-diam menyukainya, "Qin Yang, kau menyukaiku." Dan dia membuktikan itu dengan mencium Qin Yang sekali lagi. Qin Yang yang memang memiliki perasaan padanya reflek membalas ciuman itu, membuat mereka lagi-lagi terlibat dalam ciuman panas.
Lan Yan Xi yang sepertinya sekarang sedang kecanduan pada bibir Qin Yang, lagi-lagi mengajaknya berciuman dalam perjalanan dari lemari pakaian menuju tempat tidur Qin Yang. (Sang Nona Besar gak bisa ngeliat pengawal ganteng nganggur bentar, langsung nyosor mulu)
Hubungan mereka berkembang semakin manis, apalagi saat hari ulang tahun Lan Yan Xi, dia mengajak Qin Yang mengunjungi panti asuhan tempat dia dulu pernah tinggal dan menceritakan tentang kisah masa kecilnya yang suram. Qin Yang menghiburnya dan mengatakan bahwa mulai hari ini Lan Yan Xi tidak akan pernah kesepian dan sendirian lagi karena ada dia yang akan selalu menemaninya.
Namun sayangnya kemesraan dan kemanisan itu harus berakhir untuk sementara saat Lan Qi Tao memberikan perintah pada Qin Yang untuk bertindak secepatnya, dia ingin Qin Yang mencuri surat wasiat kakeknya agar bisa segera mengusir Lan Yan Xi dari perusahaan dan merebut posisi CEO dari gadis itu. Tak punya pilihan karena merasa berhutang budi pada Lan Qi Tao dan karena menyadari bahwa memang ini adalah misinya sejak awal, Qin Yang pun mengkhianati Lan Yan Xi dan mencuri surat wasiat tersebut serta memberikannya pada Lan Qi Tao.
Setelah mengusir Lan Yan Xi dari perusahaan, Lan Qi Tao juga dengan menyebalkannya memberitahukannya di depan semua orang bahwa Qin Yang-lah yang telah membantunya mencuri surat wasiat itu, dengan kata lain Lan Qi Tao ingin Lan Yan Xi tahu bahwa Qin Yang adalah mata-mata yang dia kirim.
Dia rela menerima hukuman sesuai dengan peraturan asalkan sang Nona Besar mengijinkannya tetap tinggal. Di hadapan sang Nona Besar, Qin Yang pun menusuk dirinya sendiri sebanyak tiga kali lalu berlutut di tengah hujan di depan rumah sebagai wujud penyesalan serta permintaan maafnya. Qin Yang mengatakan bahwa dia bersedia menjadi "Anjing setia" sang Nona mulai sekarang dan tidak akan lagi mengkhianatinya. Qin Yang terus bersujud di tengah hujan memohon kesempatan kedua. Hingga akhirnya sang Nona Besar pun merasa tak tega dan keluar untuk menemuinya.
Hingga pada saat acara lelang yang diadakan Lan Qi Tao, Qin Yang pun berhasil membuktikan bahwa dirinya layak kembali dipercaya dan perasaannya pada gadis itu adalah nyata, bukan palsu. Saat Lan Qi Tao ingin melelang hadiah mahar Lan Yan Xi yang merupakan hadiah dari ayah dan kakak angkatnya, Yan Xi dan Qi Tao saling mengalahkan dengan menawar harga yang tinggi, hingga akhirnya Qin Yang mengancam akan membunuh Lan Qi Tao saat itu juga jika dia tetap melanjutkan pelelangan dan menolak memberikan barang itu kepada Lan Yan Xi.
Barang-barang itu memang berhasil kembali ke tangan Lan Yan Xi namun itu membuat Qin Yang berada dalam bahaya karena Lan Qi Tao yang kesal, mengirim orang-orangnya untuk menangkap Qin Yang dan memukulinya. Saat itu Qin Yang sedang dalam perjalanan membeli kue untuk sang Nona saat tiba-tiba segerombolan orang menculiknya. Lan Yan Xi yang menunggu Qin Yang yang tak kunjung kembali ke rumah menjadi sangat gelisah, hingga dia menyebar orang-orangnya untuk mencari keberadaan Qin Yang yang tiba-tiba saja menghilang dan mendapat kabar bahwa Lan Qi Tao menangkap Qin Yang.
Namun Qin Yang yang memang berwajah tampan mendadak menarik perhatian seorang wanita kaya yang juga merupakan salah satu pemegang saham dalam Tiya Corporation yang memiliki 15% saham. Lan Yan Xi yang mengetahui bahwa Lan Qi Tao akan bekerja sama dengan mafia dunia hitam untuk pencucian uang berusaha menghentikan hal itu. Satu-satunya cara adalah dengan memiliki saham sebanyak minimal 35% agar bisa menggunakan suaranya sebagai pemegang saham terbesar untuk menolak keputusan itu. Dia sudah berhasil membeli 20% saham lainnya, sialnya, pemegang saham 15% menolak menjual saham miliknya kecuali Lan Yan Xi bersedia memberikan Qin Yang padanya.
Lan Yan Xi yang mencintai Qin Yang tentu tidak akan pernah menyerahkan pria yang dia cintai ke tangan wanita lain, begitupun Qin Yang, yang tidak akan pernah mau meninggalkan Lan Yan Xi lalu datang ke pelukan wanita lain. Namun wanita itu, Zhao Wan Qing tidak menyerah, dia bahkan mengundang Qin Yang ke kamarnya secara terang-terangan di depan Lan Yan Xi dan bahkan merayu Qin Yang di depan Yan Xi. Setelah wanita itu pergi, Lan Yan Xi dengan kesal membersihkan jas Qin Yang yang sebelumnya disentuh oleh wanita itu seolah-olah wanita itu adalah hama.
Lan Yan Xi memutuskan bahwa dia tidak akan membeli saham milik Zhao Wan Qing, dia akan berusaha mencari cara lain. Namun Qin Yang yang ingin melakukan sesuatu untuk Lan Yan Xi dengan diam-diam pergi mendatangi Zhao Wan Qing di kamarnya. Begitu melihat Qin Yang datang ke kamarnya, Zhao Wan Qing langsung menarik Qin Yang ke atas ranjang dan menindihnya, berusaha mencium Qin Yang namun Qin Yang terus menolak dan berusaha menghentikannya. Akhirnya Qin Yang berpura-pura menjadi banci agar wanita itu ilfil. (Sumpah, terbiasa melihat Wang Yi Ran manly banget, mendadak liat dia akting melambai jadi cringe sendiri -.-)
Zhao Wan Qing akhirnya menyadari bahwa Qin Yang tidak mau melayaninya apa pun yang terjadi karena hati Qin Yang sudah jadi milik Lan Yan Xi, tidak akan ada tempat untuk wanita lain. Dia pun mengatakan bahwa dia pernah mendengar rumor yang menyebutkan bahwa Lan Yan Xi dan salah satu pengawalnya yang bernama Qin Yang sedang menjalin hubungan asmara alias pacaran diam-diam, hanya saja dia tidak menyangka kalau semua itu benar, mengingat perbedaan status keduanya.
Menyerah karena tahu bahwa perasaan tidak bisa dipaksa, Zhao Wan Qing akhirnya memberikan 15% saham tersebut dengan cuma-cuma pada Qin Yang, namun dia tetap meminta imbalan lain yaitu mencium pipi Qin Yang. Sementara itu Lan Yan Xi di rumah menjadi gelisah saat tidak menemukan Qin Yang di mana-mana. Walaupun kapten pengawal tim satu sudah berbohong untuk menutupi ke mana Qin Yang pergi, namun Lan Yan Xi seolah sudah bisa menebak ke mana kekasihnya pergi saat ini.
Saat Qin Yang kembali, begitu dia ingin masuk ke kamar sang Nona untuk menyerahkan saham tersebut, ternyata sang Nona sudah menunggunya. Dengan panik, Qin Yang berjalan mundur keluar dari kamar dan menjelaskan dengan gugup bahwa tidak terjadi apa pun di antara dia dan Zhao Wan Qing. Lan Yan Xi dengan air mata berlinang berkata bahwa dia tidak butuh pengorbanan seperti itu dari Qin Yang, karena Qin Yang bukan barang yang bisa diberikan kepada siapa saja, Qin Yang hanya miliknya. Dia menyuruh Qin Yang pergi, namun Qin Yang dengan keras kepala mengatakan bahwa dia tidak ingin hanya menjadi pengawal yang hanya berdiri di belakang Lan Yan Xi yang hanya menunggu perintah untuk bertindak tanpa bisa melakukan apa pun untuk membantunya.
"Yan Xi, aku tidak punya uang maupun kekuasaan, namun aku ingin melakukan sesuatu untukmu dengan caraku sendiri." - Qin Yang.
Mendengar kalimat yang mengandung ketulusan dan perhatian dari Qin Yang, kemarahan Lan Yan Xi seketika mencair, apalagi untuk pertama kalinya Qin Yang memanggil namanya dan bukan "Da Xiao Jie (Nona Besar)". Lan Yan Xi berjalan mendekati Qin Yang dan ingin menyentuh pipinya namun tiba-tiba Qin Yang justru menggendongnya dan mendudukkannya di meja billiard kemudian mencium keningnya.
Tahu bahwa Lan Yan Xi ingin kembali mengambil alih kepemimpinan perusahaan, Paman Kedua (pemegang saham terbesar kedua perusahaan) yang ingin mengembalikan Tiya Corporation ke jalur hitam dunia mafia, merancang kecelakaan untuk membunuh Lan Qi Tao (CEO saat ini) setelah membuatnya menandatangani pengalihan saham miliknya. Untunglah Lan Qi Tao tidak meninggal. Lan Yan Xi yang mengetahui hal itu berusaha mencari cara agar mereka bisa menangkap Paman Kedua dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Lan Qi Tao. Namun tentu saja mereka butuh bukti dan saksi untuk itu.
Qin Yang akhirnya memiliki ide untuk menjebak tangan kanan Paman Kedua agar berkhianat dan memberikan semua bukti-bukti kejahatan Paman Kedua kepada mereka. Qin Yang sengaja menyamar sebagai pembunuh bayaran untuk membunuh tangan kanan Paman Kedua tersebut. Dan sesuai dengan rencana, tangan kanan yang ketakutan itu mendatangi Lan Yan Xi untuk meminta perlindungan agar Paman Kedua tidak bisa membunuhnya. Lan Yan Xi pura-pura menolak membantunya, namun ketika sang tangan kanan berkata bahwa dia menyimpan semua bukti kejahatan Paman Kedua, barulah Lan Yan Xi bersedia mengulurkan tangan. Tapi dia meminta pria itu untuk menyerahkan semua bukti itu ke polisi secepatnya.
Sialnya, Paman Kedua juga mengetahui hal ini. Pada hari Perusahaan akan diakuisisi oleh SK Group yang bergerak di jaringan bawah tanah (mafia), demi mencegah kedatangan Lan Yan Xi ke perusahaan untuk menggagalkan rencananya dan menghilangkan semua bukti kejahatannya, Paman Kedua mengirim pembunuh untuk membunuh Lan Yan Xi beserta saksi (sang tangan kanan) yang ingin melaporkannya ke polisi.
Mobil yang membawa saksi tersebut berhasil lolos, namun mobil yang membawa Lan Yan Xi dan Qin Yang terdesak ke jalan buntu. Demi melindungi saksi, Lan Yan Xi mengutus semua orang-orangnya untuk mengawal pria tersebut, sedangkan dia yang hanya akan pergi ke perusahaan dan tak mengira akan diserang, hanya pergi berdua bersama Qin Yang yang mengawalnya.
Saat mereka diserang, sebagai pengawal sekaligus kekasih Lan Yan Xi, dia tentu akan melindungi gadis itu mati-matian. Dia mengalami luka tembak di berbagai tempat, mulai dari lengan, kaki hingga yang terakhir dada kirinya juga tertembak. Qin Yang sudah terjatuh ke tanah dengan berlumuran darah, namun ketika sang pembunuh akan menembak Lan Yan Xi, dengan kekuatannya yang terakhir, Qin Yang menabrakkan dirinya ke arah si pembunuh hingga membuat mereka berdua (Qin Yang dan pembunuh itu) terjatuh ke dalam sungai yang berarus deras.
Setelah tiga tahun, saat Lan Qi Tao sudah sehat dan perusahaan sudah kembali stabil, Lan Yan Xi pun menyerahkan Tiya pada Lan Qi Tao dan mengembalikan jabatan CEO pada keponakannya, karena dia memiliki hal penting yang harus dia lakukan yaitu mencari Qin Yang.
Tepat saat itu, Gu Corporation yang ingin menjalin kerja sama dengan Tiya Corporation mengirimkan undangan pesta topeng untuk merayakan kembalinya sang pewaris tunggal Gu Corporation sekaligus CEO baru mereka, yaitu Gu Ming Chen. Lan Qi Tao yang malas mendatangi pesta meminta tolong pada Lan Yan Xi untuk mewakili Tiya hadir di pesta itu. Siapa sangka bahwa di pesta itu akhirnya Lan Yan Xi bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan Qin Yang.
Saat berdansa, Lan Yan Xi merasa sosok Gu Ming Chen sangat familiar. Namun sayang, belum sempat berkenalan, Gu Ming Chen segera pergi setelah dansa berakhir. Lan Yan Xi yang merasa Gu Ming Chen sangat mirip dengan Qin Yang segera berlari mengejarnya hingga melepas sepatunya agar lebih mudah berlari, tapi dia salah mengenali orang lain.
Kecewa karena gagal menemukan Qin Yang, Lan Yan Xi melepas topengnya sambil menangis sedih. Dia berpikir dia mengalami halusinasi karena kerinduannya yang besar pada Qin Yang hingga membuatnya seolah melihat Qin Yang di mana-mana. Namun pada saat dia hampir putus asa, Qin Yang yang kini kehilangan ingatan, muncul di hadapannya seraya membawa sepasang sepatu yang tadi dia lepaskan saat mengejar sosok Qin Yang.
Qin Yang, yang kini bernama Gu Ming Chen, dengan penuh kebingungan di wajahnya reflek melepaskan pelukan Lan Yan Xi dan berkata bahwa gadis itu mungkin salah mengenali orang karena dia bukan Qin Yang. Kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan Lan Yan Xi dalam kekecewaaan.
Esok paginya, CEO baru Gu Corporation mendatangi kantor CEO Tiya Corporation untuk menemui Lan Qi Tao dan meminta ijin untuk inspeksi sebelum mereka melakukan kerjasama. Lan Qi Tao sangat terkejut melihat Gu Ming Chen dan bahkan memanggilnya "Qin Yang". Gu Ming Chen hanya tersenyum sopan dan berkata, "Sepertinya aku dan Qin Yang itu sangat mirip, hingga Anda pun salah mengenali aku sebagai dia. Aku Gu Ming Chen, CEO Gu Corporation, bukan Qin Yang."
Melihat penyangkalan tegas Gu Ming Chen, Lan Qi Tao hanya bisa tersenyum sopan dan meminta maaf, seraya berkata kalau dia sebagai CEO, akan secara pribadi menemani Gu Ming Chen untuk melakukan inspeksi dan menjamin bahwa selama Gu Ming Chen berada di Tiya Corporation, dia akan merasa nyaman. Namun tiba-tiba saja Lan Yan Xi muncul di depan pintu kantor Lan Qi Tao dan berkata bahwa dia sebagai CEO yang akan menemani Gu Ming Chen melakukan inspeksi, membuat Lan Qi Tao bingung.
"Hah? Bibi, bukankah beberapa hari yang lalu, kau bilang sudah mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan CEO padaku?" tanya Lan Qi Tao yang tak mengerti kalau Bibinya ingin mendekati Gu Ming Chen dan menjadikan inspeksi sebagai alasan.
"Pengunduran diriku diundur. Aku yang akan menemaninya." putus Lan Yan Xi final.
Maka hal pertama yang dia lakukan adalah mengundang Gu Ming Chen makan siang di rumahnya, dengan alasan bahwa makan siang di rumah lebih menunjukkan ketulusan daripada makan siang di hotel atau restoran. Saat akan menuangkan minuman, Lan Yan Xi sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Gu Ming Chen dan menawarinya meminjaminya baju ganti.
Untuk membuktikan bahwa dia adalah Qin Yang, Lan Yan Xi sengaja membawa Gu Ming Chen ke kamar Qin Yang, yang walau sudah tiga tahun tidak ditempati namun masih dibersihkan dan bahkan letak barang-barangnya pun tidak berubah, seolah-olah Qin Yang masih tinggal di sana. Gu Ming Chen yang berjalan ke arah lemari pakaian dan melihat sekumpulan baju-baju itu mulai merasakan perasaan yang familiar, dan sekelebat kenangan mulai bermunculan namun dia tidak bisa melihat wajah-wajah yang tampak di sana.
Setelah memutuskan untuk mengambil satu setel pakaian, Gu Ming Chen mengganti pakaiannya, namun dia menyadari bahwa pintu kamar itu terbuka dan ada yang mengintipnya. Dia pun melangkah keluar dan menemukan Lan Yan Xi serta pengawalnya sengaja mengintipnya berganti pakaian. Dia tampak kesal namun tak berkata apa-apa dan ingin menutup pintunya, namun Lan Yan Xi menahan pintu itu.
Lan Yan Xi dengan tenang menjawab, "Kau marah karena karena aku mengujimu atau karena kau menganggapku menjadikanmu pengganti Qin Yang?"
"Apa itu ada bedanya?" tanya Gu Ming Chen masih dengan emosi.
"Qin Yang adalah kekasihku, aku yang paling mengenalnya. Jika aku bilang kau adalah Qin Yang maka itu pasti benar. Qin Yang memiliki banyak luka di tubuhnya yang didapatkannya karena melindungiku. Dia punya luka tembak di punggung kirinya saat melindungiku. Dia punya luka tusuk di pinggangnya saat dia menjalani hukuman karena mengkhianatiku. Di punggungnya juga ada banyak bekas luka cambukan yang dia dapatkan karena menentang Lan Qi Tao untukku. Lalu di dada kirinya juga ada bekas luka tembak yang dia dapatkan karena melindungiku dari pembunuh," jawab Lan Yan Xi dengan penuh percaya diri.
Tapi Gu Ming Chen mematahkan semua itu setelah menunjukkan bahwa di tubuhnya bersih tanpa bekas luka apa pun, membuat Lan Yan Xi kembali patah semangat.
"Di mana? Di sini? Di sini? Atau di sini?" ujar Gu Ming Chen dengan dingin.
"Nona Lan, aku datang kemari untuk inspeksi dan menjalin kerjasama dengan Tiya. Selain itu lima hari lagi aku juga akan bertunangan dengan tunanganku, jadi tolong jaga batasmu!" lanjut Gu Ming Chen sekali lagi, membuat hati Lan Yan Xi semakin sedih.
Namun yang tidak Lan Yan Xi ketahui, ketika kembali ke kediamannya, Gu Ming Chen teringat percakapannya dengan sang ayah tiga tahun lalu, tentang dia yang menjalani operasi tranplantasi kulit untuk menghilangkan semua bekas luka akibat kecelakaan di tubuhnya.
"Ayah bilang ini adalah bekas luka akibat kecelakaan mobil, kan? Tapi kenapa bekas luka itu sangat mirip dengan bekas luka akibat tusukan pisau, cambukan dan luka tembak?" Gu Ming Chen perlahan mulai mempercayai ucapan Lan Yan Xi setelah mendengar bekas luka tersebut. Namun dia berusaha menyingkirkan prasangka itu dan berusaha fokus pada pertunangannya.
Besok malamnya, Gu Ming Chen mendatangi klub malam di mana Lan Yan Xi mengundangnya, namun yang dia lihat justru Lan Yan Xi yang sedang bersenang-senang dengan banyak pria. Dan entah kenapa dia menjadi tidak senang melihatnya, dia menjadi sangat kesal melihat gadis itu dikelilingi banyak pria, namun dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya, hingga mau tidak mau akhirnya dia menggunakan nama Qin Yang.
"Qin Yang sangat mencintaiku. Jika dia tahu aku bisa hidup dengan baik, dia pasti akan bahagia. Jika dia tahu aku bisa belajar mencintai orang lain, aku yakin dia bisa beristirahat dengan tenang," jawab Lan Yan Xi dengan tenang, sengaja memanas-manasi Gu Ming Chen.
"Kalau begitu aku akan menemanimu bersenang-senang," jawab Gu Ming Chen seraya meraih segelas wine dan berniat mengajaknya bersulang, namun Lan Yan Xi justru berjalan menghindarinya, menolak bersulang dengannya. Ekspresi Gu Ming Chen tampak semakin kacau namun dia berusaha menahannya agar tidak meledak marah.
Setelah beberapa waktu bersenang-senang, Lan Yan Xi akhirnya menyuruh Gu Ming Chen, "CEO Gu, kurasa cukup hari ini aku menemanimu, kau pulanglah!" usir Lan Yan Xi yang tampak setengah mabuk dan dipeluk oleh seorang pria bayaran.
"Kau berada di pelukan pria lain seperti ini, apa kau tidak memikirkan perasaan Qin Yang?" seru Gu Ming Chen dengan menahan kecemburuan, sekali lagi menggunakan nama Qin Yang sebagai tameng.
"Kau juga bukan Qin Yang, lalu apa urusannya denganmu? Pergilah!" Lan Yan Xi balik bertanya sengaja memancing kecemburuan Gu Ming Chen.
Gu Ming Chen yang kesal hanya mampu berjalan keluar dengan menahan semua amarah, tapi di depan pintu private room itu dia berjalan mondar-mandir dengan gelisah, "Benar. Aku bukan Qin Yang! Tidak ada hubungannya denganku!" namun Gu Ming Chen justru mengintip ke dalam ruangan melalui jendela dengan penasaran.
Lan Yan Xi yang mengira bahwa umpannya tidak berhasil pun tampak kesal. Dua gigolo yang menemaninya pun tidak tahu harus berbuat apa, "Nona, apa perlu kita lakukan seperti dulu? Berpura-pura untuk membuatnya cemburu. Perlukah aku berteriak lagi?" tanya salah satu dari mereka, seraya memberikan ide absurd.
Lan Yan Xi menggeleng dan mengatakan bahwa kali ini mereka harus melakukan sesuatu yang lebih besar, seperti misalnya pura-pura berciuman panas. Tapi sialnya, Gu Ming Chen yang sedari tadi mengintip segera menerobos masuk dan menggagalkan rencana itu.
"Aku baru ingat ada suatu dokumen penting yang kutinggalkan di kantor Tiya Corporation, temani aku ke sana untuk mengambilnya sekarang!" pinta Gu Ming Chen yang terdengar tidak masuk akal.
"Hah? Sekarang? Pukul 1 dini hari?" Lan Yan Xi tampak terkejut saat melihat waktu di arloji Gu Ming Chen menunjukkan pukul 1 dini hari.
"Benar. Aku orang yang tidak suka menunda pekerjaan. Kita pergi sekarang!" jawabnya lalu tanpa peduli pada apa pun, Gu Ming Chen menggendong Lan Yan Xi seperti menggendong karung beras di pundaknya lalu membawanya pergi dari klub malam ke kantor Tiya Corporation.
"Kita sudah dua jam di sini, sebenarnya apa yang kau inginkan? Cepat ambil berkasnya lalu pulang. Aku masih ingin bersenang-senang," rengek Lan Yan Xi.
"Berkasnya ada di kantor General Manager. Atau kalau tidak, aku pasti meninggalkannya di kantin perusahaan," jawab Gu Ming Chen asal.
"Aku tidak punya kunci ke kantor General Manager. Kunci kantin perusahaan juga tidak punya, lagipula di sana tidak ada apa-apa, kau tidak mungkin meninggalkannya di sana. Kita pulang saja," jawab Lan Yan Xi malas.
"Tidak boleh pulang!" jawab Gu Ming Chen tegas. Dia takut jika mereka pulang, maka Lan Yan Xi akan langsung lari ke pelukan para gigolo itu.
"CEO Gu sengaja menahanku di sini karena tidak ingin aku pergi, bukan? Apa kau ingin berduaan denganku?" goda Lan Yan Xi dengan genit.
"Aku hanya ingin kau menjaga batasmu saat bersamaku. Jangan melakukan sesuatu yang tidak profesional," elak Gu Ming Chen.
"Baiklah. Aku tidak akan pergi. Tapi karena kau sudah mengganggu waktuku bersenang-senang, maka kau harus memberiku kompensasi," jawab Lan Yan Xi dengan senyuman menggoda.
"Apa yang kau inginkan sebagai kompensasi?" tanya Gu Ming Chen dengan polosnya. Lan Yan Xi hanya tersenyum genit seraya menarik dasi Gu Ming Chen lalu mencium bibirnya dua kali. Gu Ming Chen tampak kaget, terlalu kaget hingga dia tak sempat menolak.
Anehnya setelah ciuman tersebut, begitu dia kembali ke rumahnya dan tertidur, mimpi yang selama ini menghantuinya, yang tak pernah bisa dia lihat wajah-wajah yang tampak di sana, kini mulai jelas dan menampakkan wajah Lan Yan Xi. Mungkin ciuman itu telah membangunkan sesuatu dalam dirinya.
"Kenapa tiba-tiba wajah gadis dalam mimpiku berubah menjadi Lan Yan Xi?" Gu Ming Chen merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya.
Gu Ming Chen mendadak terbangun dari tidurnya dengan diliputi kebimbangan, apalagi kemudian tunangannya datang dan memintanya agar tidak membatalkan pertunangan mereka karena dia sudah berjanji pada gadis itu akan membantunya. Anehnya begitu melihat sang tunangan berputar menunjukkan gaun yang akan dia kenakan, Gu Ming Chen justru melihat sosok Lan Yan Xi yang mengenakan gaun pengantin putih dan berputar di depannya memamerkan gaun pengantin yang dia kenakan. Pikirannya kini penuh dengan Lan Yan Xi.
Di rumahnya, Lan Yan Xi sangat gelisah karena besok lusa adalah hari pertunangan Gu Ming Chen.
"Aku tahu dia punya perasaan padaku. Aku hanya butuh sedikit waktu lagi," ujar Lan Yan Xi dengan gelisah.
Lan Yan Xi tersenyum senang mendengar ide itu, "Kau punya ide yang bagus."
"Hah? Apa kita benar-benar akan menculiknya?" sang pengawal tampak shock saat idenya yang absurd justru langsung di ACC oleh sang bos.
"Kita bergerak siang ini. Suruh anak-anak bersiap. Kita culik Qin Yang!" perintah Sang Nona Besar sebelum melangkah ke luar ruangan.
Dan seperti yang telah direncanakan, anak buah Lan Yan Xi benar-benar menghentikan dan menghadang mobil yang dinaiki oleh Gu Ming Chen dan menculiknya.
Lan Yan Xi bersikeras mengatakan bahwa Gu Ming Chen adalah Qin Yang (dibaca: Chin Yang), pengawal pribadi sekaligus kekasihnya yang telah hilang selama tiga tahun lamanya. Gu Ming Chen yang merasa tidak pernah bertemu dengan Lan Yan Xi sebelumnya, mengatakan dengan tegas bahwa dia adalah Gu Ming Chen dari Gu Corporation dan bukan Qin Yang, pengawalnya yang hilang.
"Aku juga mengatakan, kau adalah Qin Yang, dan aku akan membuatmu mengingatku. Jika otakmu tidak bisa, maka biarkan tubuhmu yang membantumu mengingatnya," jawab Lan Yan Xi seraya naik ke tubuh Gu Ming Chen dan menciumnya paksa.
Dan setelah beberapa saat, barulah dia melepaskan ciuman itu seraya terduduk di pangkuan Gu Ming Chen, "Bagaimana? Apa kau sudah mengingatnya?" tanya Lan Yan Xi seraya mengangkat sebilah pisau, seolah-olah ingin menikam Gu Ming Chen.
Namun ternyata dia malah membuka ikatan di kedua tangan Gu Ming Chen. Gu Ming Chen yang menyadari ikatan di kedua tangannya telah terlepas hanya menatap Lan Yan Xi tanpa kata selama beberapa saat. Sebelum kemudian memanggil namanya, "Lan Yan Xi," lalu menciumnya dengan penuh gairah. Lan Yan Xi pun tampak kewalahan dengan ciuman panas yang diberikan Gu Ming Chen padanya namun dia membalas ciuman itu dengan gairah yang sama.
"Lihat. Mulutmu terus berkata tidak, tapi tubuhmu tidak bisa berbohong. Kau mengingatku," goda Lan Yan Xi dengan genit sebelum kemudian Gu Ming Chen kembali membungkam bibir gadis itu dengan ciuman panas sambil menggendongnya menuju kamar.
Keesokan harinya, Lan Yan Xi yang menyadari bahwa Gu Ming Chen sudah tidak ada lagi di sampingnya segera menanyakan keberadaan Gu Ming Chen kepada pengawalnya, yang menjawab dengan nada menyesal.
"Kita semua tahu kemampuan Qin Yang. Jika dia ingin pergi, tak ada yang bisa menahannya. Apalagi dia mengatakan kalau dia akan memajukan acaranya hari ini, dan sialnya bukan hanya pertunangan melainkan langsung pernikahan di sebuah gereja," sahut si pengawal.
"APA? Cepat suruh anak-anak bersiap! Kita harus menghentikannya!" perintah Lan Yan Xi seraya berlari dengan panik.
Di gereja, Gu Ming Chen dan tunangannya sudah berdiri di depan altar. Gu Ming Chen hampir saja mengucapkan sumpah, saat tiba-tiba Lan Yan Xi muncul di saat yang tepat dan berkata lantang, "Aku tidak bersedia! Aku tidak setuju dengan pernikahan ini!" seru Lan Yan Xi yang muncul dengan sekumpulan pengawal yang menodongkan pistol ke arah altar.
"Aku sudah bilang, kau adalah milikku seorang!" lanjut Lan Yan Xi dengan mantap dan penuh percaya diri.
"Sekarang, kau hanya punya dua pilihan, antara kau pergi bersamaku atau kau mengganti pengantin wanitanya?" ujar Lan Yan Xi memberikan Gu Ming Chen pilihan.
Gu Ming Chen menatapnya pasrah, "Nona Lan, apa kau ingin menculik pengantinnya?"
"Benar." jawab Lan Yan Xi dengan tegas, tidak mau repot-repot menyangkal.
"Tidakkah kau berpikir kau terlalu mendominasi?" tanya Gu Ming Chen.
" Semua hal bisa dinegosiasikan, tapi kau tidak bisa. Aku Lan Yan Xi seumur hidupku, tidak pernah memperjuangkan apa pun untuk diriku sendiri. Hanya terhadapmu, aku tidak akan menyerah." jawab Lan Yan Xi tegas.
"Jika aku menyetujui permintaanmu, apakah kau akan meninggalkan aku dan kehilangan ketertarikan setelah puas bermain-main?" tanya Gu Ming Chen meminta kepastian.
"Tidak akan. Hanya kau yang kuinginkan," jawab Lan Yan Xi tegas.
"Lalu apa kau akan tetap pergi ke klub malam dan bersenang-senang dengan banyak pria setelah ini?" Gu Ming Chen sekali lagi bertanya.
"Setelah ini aku hanya akan bersenang-senang denganmu. Tubuhku, hatiku, hanya akan sepenuhnya menjadi milikmu. Aku hanya akan setia padamu," Lan Yan Xi kembali menjawab dengan tegas.
"Kesetiaan penuh?" ulang Gu Ming Chen.
"Kalau begitu, aku sepertinya tidak punya pilihan," jawab Gu Ming Chen akhirnya.
"Jadi? Apa kau mau menikah denganku?" tanya Lan Yan Xi dengan hati berdebar seraya berjalan mendekati Gu Ming Chen.
Tapi belum sempat Gu Ming Chen menjawab, Lan Qi Tao tiba-tiba berdiri dan bertanya dengan bingung, "Tunggu, Bibi. Pernikahan kalian ini apakah harus didahului oleh drama sebesar ini? Apa ini bagian dari acara? Kenapa kalian bahkan tidak memberitahuku?" tanya Lan Qi Tao seraya menggaruk kepalanya dengan bingung.
Pertanyaan itu membuat Lan Yan Xi juga ikut bingung, namun Gu Ming Chen tampak santai dan justru tersenyum penuh arti saat Lan Yan Xi menatapnya penuh tanya.
"Apa kami semua di sini juga merupakan bagian dari drama ini?" lanjut Lan Qi Tao lagi.
"Kalian?" tanya Lan Yan Xi bingung, karena sejak datang ke gereja itu dia tidak memperhatikan para tamu undangan dan hanya fokus menatap ke arah Gu Ming Chen, dia bahkan tidak menyadari jika keponakannya juga ada di sana.
"Bukan hanya aku, tapi seluruh anggota dewan direksi juga diundang. Untuk pernikahan kalian, CEO Gu yang secara langsung mengundang dan menjemput kami, kami bagaimana bisa menolak?" jawab Lan Qi Tao seraya menunjuk ke arah para tamu undangan.
Tak hanya itu, "tunangan" Gu Ming Chen juga tiba-tiba berkata sambil tersenyum ke arah Gu Ming Chen, "Gu Ming Chen, karena kau sudah membantu menyelesaikan masalah keluargaku dan bahkan memberikan kami sebuah proyek penting, maka sekarang aku akan mendukungmu dan menjadi pengiring pengantin kalian," ujar sang "tunangan" seraya menyodorkan buket bunganya pada Lan Yan Xi.
Gu Ming Chen hanya tersenyum jahil seraya menarik Lan Yan Xi yang kebingungan ke depan altar agar berdiri di sampingnya, Lan Qi Tao segera menyerahkan buket bunga milik mantan "tunangan" Gu Ming Chen kepadanya, yang segera diterimanya dengan penuh kebingungan. Ternyata ini memang pernikahan yang disiapkan Gu Ming Chen (Qin Yang) untuk menikahi Lan Yan Xi, namun karena dia tahu kalau Lan Yan Xi pasti tak mudah diyakinkan, itu sebabnya dia membuat drama sebesar ini.
Gu Ming Chen (Qin Yang) kemudian berlutut di hadapannya seraya menyodorkan sebuah cincin pernikahan.
"Kau sudah ingat?" tanya Lan Yan Xi dengan air mata haru. Qin Yang (Gu Ming Chen) hanya tersenyum sebagai jawabannya. (Karena dia sudah ingat maka mari kita ganti namanya kembali menjadi Qin Yang).
"Nona Besar (Da Xiao Jie), apa kau menyesal?" tanya Qin Yang (Gu Ming Chen) menggodanya. Lan Yan Xi hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis haru.
Qin Yang (Gu Ming Chen) langsung memasukkan cincin pernikahan itu ke jari Lan Yan Xi seraya berkata, "Ucapan Nona Besar (Da Xiao Jie) tidak bisa ditarik kembali dan tidak boleh disesali. Aku sudah menjadi orangmu. Kau harus bertanggung jawab padaku," lanjut Qin Yang (Gu Ming Chen).
Akhirnya setelah berbagai macam rintangan, termasuk pengkhianatan, kehilangan selama tiga tahun lamanya dan juga amnesia yang diderita Qin Yang, Nona Besar (Da Xiao Jie) dan sang pengawal berakhir di altar pernikahan dan hidup bahagia selamanya.
Dari 70 judul drama pendek yang dibintangi oleh Wang Yiran dan dari empat kolaborasi antara Wang Yi Ran dan Zuo Yi, jujur aku paling menyukai "Fiece Love". Alasan pertama karena dengan banyaknya karakter CEO yang diperankan oleh Wang Yi Ran jadi aku merasa karakter CEO sudah terlalu biasa dan karena dia hanya memerankan satu karakter pengawal, sudah tentu aku merasa karakter sang pengawal ganteng Qin Yang sangat istimewa, beda dari karakter lain yang pernah dia perankan.
Walaupun "Fiece Love" bukan drama pendek pertama dari Wang Yi Ran yang kutonton melainkan drama pendek keempatnya setelah "Love Genius, Her Little Ballon Flower dan You Are So Sweet", namun drama keempat yang kutonton ini justru yang meninggalkan kesan paling mendalam hingga aku rela capek-capek membuat sinopsis lengkapnya dan mencari banyak foto yang berkaitan dengan Qin Yang, rela menjelajahi weibo dan mengarungi laut China Selatan hanya untuk mencari all about Qin Yang. Dan drama ini pula lah yang membuatku menyukai Wang Yi Ran.
Rencananya sih aku mau buat review sekalian di postingan ini, tapi karena sinopsis aja uda panjang, maka reviewnya aku buat di postingan berikutnya aja. Untuk semua penggemar Wang Yi Ran yang belum menonton drama ini, aku sarankan coba ditonton aja. Bagus kok ceritanya, karakternya Wang Yi Ran beda dari karakter dia yang lain. Aku sih suka type yang berbeda, tapi kalau kalian lebih suka karakter stereotype CEO ya terserah kalian juga, aku hanya memberikan saran. Tapi karena aku penganut paham "Different Is Special", sudah tentu "Fiece Love" akan selalu menjadi favoriku dari Wang Yi Ran sepanjang masa.
-------000------------
Warning :
Dilarang MENG-COPY PASTE TANPA IJIN TERTULIS DARI PENULIS! Siapa yang berani melakukannya, aku akan menyumpahi kalian SIAL 7 TURUNAN!
Semua artikel dan terjemahan lagu dalam blog ini adalah murni hasil pikiranku sendiri, kalau ada yang berani meng-copy paste tanpa menyertakan credit dan link blog ini sebagai sumber aslinya dan kemudian mempostingnya ulang di mana pun, apalagi di Youtube, kalau aku mengetahuinya, aku gak akan ragu untuk mengajukan "Strike" ke channel kalian. Dan setelah 3 kali Strike, bersiaplah channel kalian menghilang dari dunia Per-Youtube-an!

.jpg)



.jpg)















.jpg)
.jpg)







.jpg)








.jpg)




























.jpg)














































Tidak ada komentar:
Posting Komentar