Friday, January 18, 2019

LOCH 2017 : Not The End Of The Story (Eps 52)


Masih seputar potongan adegan antara Guo Jing dan Huang Rong dalam “Legend Of The Condor Heroes 2017” atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai “Pendekar Pemanah Rajawali 2017”. Walaupun jumlah episode serial ini cukup panjang yaitu 52 episode secara total, tapi percayalah, setiap episodenya berjalan cepat dan tidak bertele-tele sehingga jauh dari kesan membosankan. Sejak episode pertama, pergantian setiap adegan terasa sangat cepat dan langsung pada inti permasalahan, jadi membuat penonton menikmati setiap episodenya. Apalagi dengan adanya William Yang Xuwen, si Guo Jing TERGANTENG sepanjang sejarah Legend Of The Condor Heroes. Makin betah aja tongkrongin nih serial adaptasi satu.

Haaahh...Akhirnya sampailah kita di episode terakhir adaptasi terbaru “Legend Of The Condor Heroes 2017” aka “Pendekar Pemanah Rajawali 2017”. Dan selesailah juga postingan mengenai potongan adegan Guo Jing dan Huang Rong favoritku. Tapi gpp, masih banyak yang belum diupload. Karena di Indonesia ini, Guo Jing (Kwee Cheng) TERABAIKAN maka biarlah aku yang memberikan perhatian. Oke deh, untuk yang penasaran dengan endingnya, mari kita simak potongan adegan di bawah ini...

 “LOCH 2017 : Not The End Of The Story (Eps 52)”






Dan kisahpun berlanjut... 
Pertandingan di Gunung Hua masih berlanjut. Kali ini Guo Jing vs Hong Chi Khong yang lagi-lagi berakhir imbang. Guo Jing mampu menahan semua serangan sang guru hingga 300 jurus. 

Karena kedua tetua tersebut tidak bisa mengalahkan Guo Jing, maka sesuai kesepakatan harusnya Guo Jing-lah yang menjadi pesilat hebat Nomor 1 dunia yang tidak terkalahkan.

 

Huang Yao Shi tersenyum bangga melihat kehebatan sang calon menantu. Sementara Huang Rong melonjak gembira saat melihat kekasih hatinya berhasil mendapatkan gelar Nomor 1 di dunia.
“Jing Gege menang. Jing Gege nomor 1 di dunia.” Seru Huang Rong dengan bangga seraya menggenggam tangan sang kekasih yang hanya tersenyum malu.


Tak lama setelah itu, Ou Yang Feng muncul di sana dan menantang mereka bertiga. Singkat cerita, Ou Yang Feng yang ilmunya sudah dibolak-balik justru malah semakin hebat dan bahkan walaupun mereka bertiga : Guo Jing, Huang Yao Shi dan Hong Chi Khong bergabung tetap tidak sanggup mengalahkan Ou Yang Feng. Namun sayangnya setelah berlatih kungfu terbalik, kewarasannya menjadi terganggu alias gila.


“Aku adalah Nomor 1 di dunia. Aku tidak terkalahkan. Mereka bertiga bergabung pun tetap tidak bisa mengalahkan aku.” Seru Ou Yang Feng seraya tertawa terbahak-bahak.

“Tak disangka pesilat nomor 1 di dunia adalah orang gila.” Ujar Huang Yao Shi tampak tak rela.

Setelah melihat sang kekasih, ayah dan gurunya sama-sama memuntahkan darah segar, Huang Rong pun memakai tipu muslihat untuk menipu Ou Yang Feng.

“Siapa bilang kau tidak terkalahkan? Ada satu orang lagi yang kungfunya lebih hebat darimu. Kaupun tidak bisa mengalahkannya.” Seru Huang Rong dengan siasat liciknya. 

“Siapa?” tanya Ou Yang Feng penasaran. 
“Dia adalah Ou Yang Feng.” Jawab Huang Rong memainkan siasat liciknya.

“Ou Yang Feng? Sepertinya nama itu tidak asing bagiku.” Ujar Ou Yang Feng yang sudah kehilangan kewarasannya. (Orang gila mah bebas, ya hahaha ^_^)

“Kungfu orang itu hebat sekali. Kau pasti bukan lawannya.” Lagi, Huang Rong kembali membual. 
“Aku bukan lawannya? Suruh dia keluar bertarung denganku.” Tantang Ou Yang Feng tidak terima. 
“Namanya Ou Yang Feng? Lalu siapa aku?” lanjutnya bingung.

“Kau adalah kau. Kau sendiri saja tidak tahu siapa namamu, malah bertanya padaku.” Jawab Huang Rong dengan cerdik.

“Siapa aku sebenarnya? Di mana aku? Ada apa denganku?” Ou Yang Feng makin bingung mendengar jawaban menjebak gadis itu. 

“Ou Yang Feng ingin merebut kitab 9 bulan.” Seru Huang Rong mengalihkan pembicaraan. 
“Dia ingin rebut kitab itu? Di mana dia?” Tanya Ou Yang Feng panik. 

“Di sebelah sana.” Ujar Huang Rong, kemudian dia berjalan maju ke sebuah danau kecil yang ada di tengah-tengah puncak gunung tersebut. Spontan Ou Yang Feng mengikutinya.

“Mana orangnya?” Tanya Ou Yang Feng tak sabar. 
“Dia di sana.” Seru Huang Rong seraya menunjuk bayangan air di danau. Ou Yang Feng yang sudah kehilangan kewarasannya pun menurut dan melihat bayangan dirinya sendiri di dalam pantulan air danau.

Siapa kau?” Tanya Ou Yang Feng pada bayangannya sendiri. Dan secara alami, suaranya terpantul kembali alias bergema. Ou Yang Feng terkejut saat melihat bayangan itu mengucapkan kata-kata yang sama dengannya.

“Aku Ou Yang Feng.” Ou Yang Feng menjawab pertanyaannya sendiri seperti orang gila. (Emang gila…) Dan lagi-lagi suaranya bergema. Huang Rong tersenyum senang melihat Ou Yang Feng masuk dalam perangkap.

“Kau ingin berebut gelar Nomor 1 denganku?” tanyanya lagi, dan setiap kali dia mengatakan sesuatu pasti akan langsung bergema dan membahana. Kesal karena bayangan itu selalu mengikuti kata-katanya, Ou Yang Feng pun melompat ke dalam air dan memukul airnya.

“Tadi nyaris saja. Jing Gege, ayah, guru, kalian tidak apa-apa, kan?” Tanya Huang Rong khawatir. 
“Aku tidak apa-apa.” Jawab sang ayah.

Ou Yang Feng pun kembali memberikan pertanyaan kepada bayangannya sendiri, “Kau sebenarnya siapa?” yang dijawab dengan pantulan suaranya sendiri.

“Aku Ou Yang Feng.” Ujar Ou Yang Feng, menjawab pertanyaannya sendiri. Dan bayangannya pun menggaungkan kalimat yang sama, membuatnya semakin bingung.

“JIka kau Ou Yang Feng, lalu siapa aku?” lagi, Ou Yang Feng menanyakan pertanyaan bodoh yang lagi-lagi dijawab dengan pantulan suaranya sendiri.

“Aku adalah nomor 1 di dunia.” Serunya lantang sambil memukul-mukul air di danau, dan suaranya kembali terpantul dengan keras.

“Beraninya kau meniruku!” ujarnya marah lalu kembali memukul-mukul air di danau tersebut.

Note : Yah gini ini kalau orang terlalu ambisius pengen jadi orang nomor 1, pada akhirnya jadi gila, kan? Persis kayak capres yang nyalon mulu dan kalah mulu tapi gak mau trima, ngebet banget pengen jadi orang nomor 1 di Indonesia. Awas loh jadi gila kayak Ou Yang Feng hahaha ^_^ Jadi kayak Guo Jing dong. Santai aja, gak punya ambisi apa-apa, eh mendadak jadi orang hebat. Guo Jing mirip kayak Presiden Jokowi. Rendah hati, baik budi, jujur, gak punya ambisi, makanya dilindungi Tuhan.

“Rong’er, tadi untung ada kau. Bila tidak, aku dan ayahmu mungkin tidak bisa turun gunung.” Puji sang guru atas kecerdikan muridnya.


“Memangnya kenapa harus menjadi nomor 1 dunia? Gelar ini hanya akan membuat orang jadi gila.” Ujar Guo Jing dengan polosnya seraya memandang Ou Yang Feng yang menjadi gila di bawah sana.

Note : Nah tuh capres gagal, bener tuh kata Guo Jing. Gelar nomor 1 hanya akan membuat orang jadi gila. Awas loh jadi gila kayak Ou Yang Feng wkwkwk ^_^ Terlalu ambisius pengen menang soalnya, persis Ou Yang Feng ckckck..

“Benar apa kata Jing’er. Jadi kedatanganku kemari sebenarnya bukan untuk kepentingan pribadi tapi demi persahabatan.” Jawab Huang Yao Shi.

Untuk yang pertama kalinya dia mendukung Guo Jing. Tak hanya itu, Huang Yao Shi pun memanggil Guo Jing dengan nama panggilannya yaitu “Jing’er” untuk pertama kalinya dan bicara dengan nada sayang pada sang calon menantu, sebagai tanda bahwa dia telah merestui hubungan mereka berdua dan telah menerima dan merestui Guo Jing menjadi menantunya.


“Guru, bagaimana denganmu? Bukankah tadi guru mengatakan ada sesuatu yang ingin guru sampaikan?” Tanya Huang Rong penasaran.

“Aku datang kemari hanya ingin melihat apakah Jing’er bisa menjadi Nomor 1 dunia. Sekarang adalah saatnya yang muda menggantikan yang tua. Kami sudah tua. Dunia persilatan butuh pendatang baru seperti Jing’er ini. Seseorang yang tak hanya memiliki kungfu hebat, tapi juga bijaksana. Saat ini Negara dalam bahaya, butuh orang seperti Jing’er yang berjiwa besar, untuk memimpin dunia persilatan melawan musuh. Aku sungguh ingin melihat Jing’er menjadi yang terbaik dan menjadi pendekar sejati.” Jawab Sang guru, member wejangan pada murid laki-lakinya.


“Saudara Chi kelihatannya hidup bebas tanpa pikiran, tapi ternyata dalam hatinya juga mengkhawatirkan Negara dan rakyat. Aku sangat sulit.” Puji Huang Yao Shi tulus.

“Guru, aku sudah mengerti. Kau tenang saja. Aku akan selalu ingat ajaran guru padaku.” Jawab Guo Jing dengan tulus. Sementara sang kekasih hanya memandangnya dengan bangga.


“Sudahlah. Aku sudah lapar. Ayo kita pergi.” Ujar Hong Chi Khong, mengajak mereka semua untuk turun gunung.

Akhirnya mereka berempat beristirahat di sebuah rumah kosong di bawah gunung dan Huang Rong memasak untuk mereka. 

Huang Rong mengambilkan paha ayam untuk sang guru, tapi Hong Chi Khong berkata dia tidak sedang berselera makan. Padahal tadi dia sangat lapar tapi entah kenapa selera makannya langsung menghilang begitu saja.


Mendengar jawaban sang guru yang mengatakan tak berselera makan, Huang Rong hanya tersenyum tipis tanpa kata.

“Sudahlah. Guru tak nafsu makan. Ayah, Jing Gege, kita makan saja. Ayah, makan yang banyak.” Ujar Huang Rong ceria seraya mengambilkan lauk untuk sang ayah.

“Jing Gege…” Setelah mengambilkan lauk untuk sang ayah, Huang Rong pun mengambilkan lauk untuk kekasihnya.

“Oh ya, aku masih punya satu makanan lagi. Tunggu sebentar. Aku ambil dulu.” Ujar Huang Rong tiba-tiba dengan senyuman “licik” di wajahnya.


Begitu tutup pancinya dibuka, semua orang sudah bisa mencium aroma wangi makanan tersebut. Huang Yao Shi dan Guo Jing pun menjadi penasaran dengan makanan yang dimasak oleh Huang Rong.


“Rong’er, sebenarnya makanan apa itu? Wangi sekali.” Tanya sang ayah penasaran. 
“Ayah, Rong’er sembarangan memasak makanan ini. Entah enak atau tidak.” Ujar Huang Rong merendah seraya membawa makanan tersebut ke hadapan mereka semua.


Hong Chi Khong yang tadi berkata tak punya selera makan, kini mendadak berselera kembali. 
“Rong’er, apa kau sendiri yang membuatnya?” Tanya Hong Chi Khong ingin tahu. 
“Bagaimana menurut Guru?” goda Huang Rong iseng.


“Aku sudah terlanjur memasak makanan ini, tapi guru tak nafsu makan, jadi Ayah, Jing Gege, kita makan saja bertiga.” Jawab Huang Rong, kembali menjahili sang guru.

“Baiklah. Ayo kita makan.” Sahut Huang Yao Shi setuju sambil tersenyum, mengerti bahwa putrinya sengaja mengerjai gurunya.

“Aku juga ingin mencobanya.” Celetuk Hong Chi Khong. 
“Bukankah tadi guru bilang tak nafsu makan? Guru istirahat saja. Nanti baru makan.” goda Huang Rong lagi.


“Istirahat apa? Ini…” ujar Hong Chi Khong tak rela, sementara Huang Rong hanya tersenyum lucu. 
“Saudara Yao, aku sudah lama ingin makan masakan ini, Biar aku mencicipinya lebih dulu.” Pinta Hong Chi Khong pada sahabat lamanya. Tanpa perlu mendengar jawaban Huang Yao Shi, dia langsung memakannya dengan lahap. Huang Yao Shi hanya tertawa melihat kerakusan Hong Chi Khong.

 

“Guru, bukankah masakan di istana lebih enak?” Tanya Guo Jing. Hong Chi Khong menjawab pertanyaan Guo Jing dengan makan lebih banyak.
“Guru, benarkah masakanku jauh lebih enak?” Tanya Huang Rong mengkonfirmasi. 


“Tentu saja.” Jawab sang guru tanpa pikir panjang, membuat sang murid tersenyum senang. 

“Saudara Yao, bagaimana kau bisa punya putri yang cantik dan jago memasak seperti ini? Ada makanan enak seperti ini, aku sudah bisa mundur dari dunia persilatan.” lanjut Hong Chi Khong.


Huang Yao Shi tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada sang calon menantu. 
“Jing’er, kau ikut kami pulang ke Pulau Persik untuk mengurus pernikahanmu dengan Rong’er.” Ajak Huang Yao Shi dengan lembut dan nada penuh kasih sayang.

Huang Yao Shi tampak mulai sayang pada Guo Jing. Dia benar-benar sudah merestui hubungan mereka berdua dan menerima Guo Jing sebagai menantunya. Tak hanya itu, Huang Yao Shi sendiri yang mengusulkan tentang pernikahan.

 

Guo Jing tampak terkejut untuk sesaat, dia menatap kekasihnya dengan ragu. Seolah meminta konfirmasi bahwa dia tidak salah mendengar.


Tapi setelah melihat Rong'er yang tersenyum malu-malu, barulah dia mengerti bahwa akhirnya Huang Yao Shi sudah bersedia menerimanya sebagai menantu dan merestui pernikahan mereka. 

Spontan Guo Jing  tersenyum menatap Rong’er. Huang Rong tak mengatakan apa-apa selain tersenyum malu-malu mendengar ayahnya membahas tentang pernikahannya dan Guo Jing.

 

“Ibuku sudah meninggal. Perihal Pernikahanku dan Rong’er, biar guru dan ayah mertua saja yang mengaturnya.” Jawab Guo Jing seraya menatap Huang Rong lembut. 

Guo Jing akhirnya dapat dengan lantang memanggil Huang Yao Shi dengan panggilan "Ayah Mertua" tanpa merasa takut dan canggung lagi seperti sebelumnya.

 
 
“Aku setuju.” Jawab Hong Chi Khong dengan segera. Tanpa ragu memberikan restunya untuk kedua murid kesayangannya.
  
“Baik. Aku akan kirim orang untuk memberitahu guru besarmu dan menjemputnya ke Pulau Persik.” Jawab Huang Yao Shi setuju.


“Baik. Terima kasih, Ayah Mertua.” Jawab Guo Jing dengan tersenyum gembira seraya kembali menatap Huang Rong yang masih malu-malu kucing.

 

“Jing’er, ada Huang Yao Shi sebagai mertuamu, kau tak perlu lagi menjadi nomor 1 dunia.” Ujar sang guru. Huang Yao Shi pun tertawa gembira melihat putrinya gembira.


Tapi tak lama kemudian, ada sepasang rajawali putih milik Guo Jing yang tiba-tiba saja muncul dan membawa pesan dari Hua Cheng bahwa Mongol akan segera menyerang Sung dan target pertama mereka adalah benteng Xiang Yang sebagai benteng perbatasan terluar.

  


Huang Yao Shi spontan menyuruh putri dan menantunya untuk pergi ke benteng Xiang Yang dan memberitahu pejabat di sana untuk bersiap. Jika mereka tidak mau mendengar, Guo Jing sendiri yang harus memimpin pasukan untuk melawan Mongol. 



Sementara Hong Chi Khong menyuruh Huang Rong memanggil anggota partai pengemis untuk datang membantu karena Negara dalam keadaan bahaya.



Dalam perjalanan ke benteng Xiang Yang, Guo Jing mengajak Huang Rong beristirahat sejenak di sebuah kedai untuk makan dan minum karena langit mulai mendung dan takut hujan akan turun. Ternyata di sana mereka bertemu dengan Mu Nian Chi dan bayi Yang Guo. (Haaahhh…Si egois terlahir ke dunia. Ngapain juga elo lahir kalau ujung-ujungnya ngumpet dalam kuburan???)




Akhirnya Guo Jing dan Huang Rong menceritakan bahwa Yang Kang telah mati akibat ulahnya sendiri. Mu Nian Chi meminta Guo Jing mencarikan nama untuk anak itu. 

Guo Jing akhirnya memberikan namanya sendiri untuk anak itu yaitu “Guo”. Dengan harapan bila besar nanti, bayi itu akan seperti dirinya, berjuang demi Negara dan melindungi rakyat.


Note : Gak usah ngimpi, Guo Jing! Si Yang Guo (Yoko) kan ujung-ujungnya ngumpet dalem kuburan, indehoi ma bininya yang juga sama egoisnya. Mana peduli dia sama rakyat kecil yang terjajah dan tertindas? Selangkangan Xiao Long Ni jauh lebih nikmat daripada perang demi melindungi orang yang gak dikenal. PAHLAWAN SEJATI itu HANYA GUO JING lah. Demi membela bangsa dan Negara hingga harus gugur di medan perang di dalam benteng Xiang Yang, sampai tua berjuang demi Negara. Bahkan sampai keluarganya pun harus gugur semua pula di medan perang. Walau Guo Fu (Kwee Hu) digambarin “jahat” karena memotong tangannya Yoko (walau bagiku memang sangat pantas dan layak tuh tangan dipotong, gak guna soalnya), tapi setidaknya pada akhirnya Guo Fu (Kwee Hu) juga gugur di benteng Xiang Yang melindungi rakyat yang terjajah. 


Lah Yoko apa? NGUMPET !!! PENGECUT !!! EGOIS !!! Harusnya loe aja yang mati sono >__< Tugas melindungi Negara bukan yang muda (Yoko) yang melindungi tapi malah yang tua (Guo Jing). Yang muda (Yoko) malah ngumpet dalem kuburan dan indehoi ma bininya ckckck… Gak pantes disebut YING SIUNG aka PAHLAWAN. Pahlawan apaan yang ngumpet? Pahlawan kesiangan??? Ngebunuh satu hakim Roda Emas aja lagaknya uda kayak membunuh ratusan ribu prajurit mongol. Itu Guo Jing woiiiii yang ngebunuh… Bloggernya benci sama Yoko sampai ke sumsum tulang T__T Lebih benci lagi kalau orang yang egois kayak Yoko malah banyak yang suka *sigh*

Oke lanjut, inget Yoko bikin bad mood >__<


Setelah memberi nama pada bayi Yang Kang, Guo Jing dan Huang Rong pun melanjutkan perjalanan ke Benteng Xiang Yang. Namun sayang, walikota yang bertanggung jawab atas Kota Xiang Yang hanyalah seorang pengecut yang takut mati. 

Walikota pengecut itu bahkan hampir melarikan diri dengan membawa banyak perhiasan, untung saja Guo Jing dan yang lainnya segera menghentikannya sebelum walikota pengecut tersebut melarikan diri dari benteng Xiang Yang.


Tetua Lu Yu Jiao berkata bahwa harus ada seorang pemimpin untuk memimpin mereka melawan pasukan Mongol, spontan membuat Guo Jing segera berjalan keluar dan berinisiatif untuk mengambil alih pimpinan di Benteng Xiang Yang.



Guo Jing akhirnya mengambil alih pimpinan di Benteng Xiang Yang dan sepenuh hati meminta kepada semua prajurit di sana untuk membantunya berjuang melawan penjajah Mongol untuk melindungi rakyat dan negara. Karena melindungi rakyat termasuk melindungi keluarga mereka sendiri.



“Seluruh prajurit Sung, tolong dengarkan aku! Namaku Guo Jing, aku berasal dari Desa Niu, di kota Ling’An. Walaupun sejak kecil aku meninggalkan kampung halaman, tapi sekarang aku telah kembali ke tempat di mana aku berasal. Aku tak rela kampung halamanku dikuasai oleh orang asing. Kota Xiang Yang adalah bagian dari negara Sung. Saat ini, kita di sini bukan hanya untuk mempertahankan kota ini. Tapi juga untuk melindungi keluarga kalian. Jika kota ini hancur, maka keluarga kalian juga akan binasa. Aku Guo Jing, atas nama bangsa Sung, mengandalkan kalian semua.” Seru Guo Jing dengan tegas dan mantap, berusaha mengobarkan semangat kebangsaan para prajurit Sung di benteng Xiang Yang.



Pidato kepahlawanan Guo Jing ternyata sukses membakar semangat para prajurit Xiang Yang, membuat Huang Rong tersenyum bangga melihat sang kekasih tercinta.


Di saat genting, untunglah Huang Rong yang cerdas berhasil mendapatkan ide cemerlang untuk menahan pasukan Mongol sementara waktu, yaitu dengan memakai siasat “Kota Kosong”. Huang Rong menyamar menjadi seorang prajurit dan berjalan mendampingi walikota Xiang Yang untuk menyambut Pasukan Mongol dengan membawa banyak sekali hadiah dan permata. 


Huang Rong menyuruh walikota tersebut untuk menyambut pasukan Mongol dan mengundang mereka ke dalam kota Xiang Yang. Sementara di atas benteng tampak berjaga pasukan Xiang Yang dengan siap siaga, memberikan kesan bahwa Sung sudah tahu tentang rencana Mongol yang akan menyerang mereka dan undangan tersebut hanyalah perangkap untuk menghabisi seluruh prajurit Mongol di dalam benteng Xiang Yang.


Akhirnya Jenderal Mongol yang tampak curiga setelah melihat banyak prajurit berjaga di benteng kota menolak dengan alasan bahwa mereka lebih nyaman tinggal di luar benteng. 

Huang Rong tersenyum lega karena siasatnya berhasil. Untuk sementara, pasukan Mongol berhasil diusir pergi. Namun walaupun begitu, siasat tersebut hanya mampu menahan serangan Mongol untuk sementara saja. Cara terbaik untuk menghentikan mereka adalah dengan menangkap pemimpinnya.


Guo Jing dan Huang Rong akhirnya diam-diam menyusup ke dalam markas pasukan Mongol, hanya untuk melihat bahwa Tuo Li-lah yang ditunjuk menjadi pemimpin mereka untuk menyerang Sung.

Guo Jing dan Tuo Li akhirnya berbincang sejenak untuk terakhir kalinya sebagai saudara angkat. Mereka bersulang dengan sedih karena teringat betapa dekatnya hubungan mereka di masa lalu, tapi kini mereka harus saling berhadapan sebagai musuh.

“An Ta, benarkah kau diperintah oleh Jenghis Khan untuk menyerang kota Xiang Yang? Memandang hubungan kita, aku mohon tarik pasukan kalian. Apa kau bisa melakukannya?” ujar Guo Jing, langsung pada intinya.


“An Ta, aku adalah orang Mongol.” Jawab Tuo Li, tampak menyesal. 
“Aku mengerti. Aku juga adalah orang Sung.” Potong Guo Jing.

“An Ta, bisa tidak kau jangan ikut campur masalah ini? Aku tidak menginginkan hal ini. Aku benar-benar tidak ingin kita bertemu di medan perang.” Ujar Tuo Li penuh harap.

“Maaf, aku tak bisa. Aku tidak bisa tinggal diam melihat negara Sung dihancurkan oleh Mongol. Aku tak bisa melihat nasib rakyat Sung akan berakhir sama seperti nasib rakyat Samarkhan. Semuanya tewas.” jawab Guo Jing tegas.

“An Ta, haruskah kita berhadapan di medang perang?” Tuo Li masih tampak tak tega harus berperang melawan seseorang yang sudah dianggapnya sebagai saudara.

“An Ta, apa kau masih ingat apa yang kita ucapkan saat masih kecil? Suka dan duka, akan kita pikul bersama. Tapi kini, kita masing-masing memiliki majikan. Jika kau menyerang, aku akan bertahan. Keberuntunganmu adalah bencana bagiku dan bencanamu adalah keberuntunganku.” Guo Jing dengan tegas memberikan jawaban dan pilihannya, membuat Tuo Li hanya bisa tersenyum miris.


“An Ta, kita pernah menjadi saudara. Walau sekarang kau adalah musuh Mongol, tapi aku tetap menghormatimu sebagai pahlawan. Bersulang.” Ujar Tuo Li, dengan pedih menerima takdir mereka.

“Baik. Hari ini kita minum sepuasnya. Saat bertemu kembali, kita adalah musuh. Mari bersulang!” jawab Guo Jing seraya mengangkat gelasnya dan bersulang.

Tapi untunglah untuk sementara waktu, invasi Mongol ke China dapat dihentikan dengan kematian Jenghis Khan.

Note : Sebelum Khan meninggal, dia menunjuk Tuo Li sebagai penerusnya. Namun kakak pertama dan kedua Tuo Li yang kecewa karena sang ayah tidak memilih mereka menjadi pemimpin akhirnya berniat ingin merebut kekuasaan. Terjadi perang saudara di Mongol hingga beberapa tahun lamanya (kurang lebih 10 tahunan) yang secara tidak langsung memberikan keuntungan pada Sung karena invasi Mongol sempat terhenti akibat perebutan kekuasaan di kubu internal. Itulah sebabnya, Guo Jing dan Huang Rong masih bisa menikmati hidup damai yang penuh kebahagiaan di Pulau Persik selama beberapa tahun hingga putri pertama mereka, Guo Fu (Kwee Hu) lahir dan Yoko datang mengacaukan kebahagiaan mereka >__<

Tak lama setelah bersulang, salah satu prajurit Mongol datang memberi kabar bahwa Jenghis Khan sakit keras dan Tuo Li diminta untuk pulang sekarang juga. Orang itu juga mengatakan bahwa Jenghis Khan sangat merindukan Guo Jing, jika mengetahui keberadaannya, bawalah pulang bersama kita. Padahal saat itu, Guo Jing sudah ada di dalam tenda bersama Tuo Li.


Guo Jing keluar dari dalam tenda dan menceritakannya pada Huang Rong yang sedari tadi menunggunya di luar tenda. 
“Bagaimana Kakak Jing?” tanya Huang Rong dengan penasaran.

“Untuk sementara Xiang Yang aman, Khan sedang sakit keras. Dia ingin aku dan Tuo Li pulang ke Mongol untuk menemuinya.” Jawab Guo Jing dengan tersenyum lega. Seperti yang dia katakan pada Tuo Li bahwa bencana Mongol adalah keberuntungannya.

“Baik. Aku pergi bersamamu.” jawab Huang Rong tanpa pikir panjang. Yang pasti dia akan pergi ke manapun Guo Jing akan pergi.

Dan akhirnya Guo Jing (tentunya bersama Huang Rong) kembali ke Mongol untuk sesaat dan menemui Jenghis Khan (Temujin) untuk yang terakhir kalinya sebelum pria itu menghembuskan napas terakhirnya.

Setelah sampai di Mongol, Jenghis Khan meminta Guo Jing untuk menemaninya berjalan-jalan keluar. 
“Jing’er, akhirnya aku berhasil mempersatukan seluruh wilayah Mongo. Berikutnya, para pahlawan Mongol akan mempersatukan dunia. Bagaimana menurutmu?” tanya Jenghis Khan pada Guo Jing.


Namun belum sempat Guo Jing menjawab pertanyaan itu, Jenghis Khan melihat burung rajawali di langit dan berniat memanahnya namun sayangnya gagal. Khan seolah mendapat firasat bahwa waktu hidupnya di dunia ini sudah tidak lama lagi. 

“Sudah bertahun-tahun, baru kali ini panahku meleset. Sepertinya hari kematianku sudah tiba.” Ujar Jengkhis Khan seraya melempar busurnya ke tanah. 


“Jing’er, semua wilayahku takkan ada yang bisa merebutnya. Semua wilayah dari barat ke timur, membutuhkan satu tahun perjalanan. Apakah menurutmu ada pahlawan yang lebih baik daripada aku?” tanya Jengkhis Khan sekali lagi, yang kali ini dijawab oleh Guo Jing.


“Ilmu perang Khan tidak terkalahkan. Benar-benar seorang pahlawan. Hanya saja, selama bertahun-tahun, anda terus berperang telah banyak menelan korban. Banyak yang kehilangan anggota keluarganya.” Jawab Guo Jing dengan jujur. 

“Kau bilang apa?” tanya Jenghis Khan, tampak tak menyukai ucapan Guo Jing yang terlalu jujur. 

“Pahlawan sejati bukanlah mereka yang menguasai dunia. Tapi mereka yang mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat banyak. Juga yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. Kelak saat mereka mati, akan dihormati oleh semua orang.” Lanjut Guo Jing dengan berani. Menjelaskan arti pahlawan menurut sudut pandangnya yang sederhana. (Kalau dalam novelnya ditambahin "Untuk apa menguasai dunia jika saat kau mati, kau hanya membutuhkan sebidang tanah.")


Note : Tuh liat para penggemar Yoko! Pahlawan tuh seperti yang didefinisikan oleh Guo Jing yaitu “Mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. Seorang Pahlawan adalah mereka yang mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat banyak.”

Lah Yoko apa? Ngumpet dalem kuburan. Masak ada pahlawan ngumpet di selangkangannya Xiao Long Ni? Pahlawan itu seperti Guo Jing, berjuang demi bangsa dan negara hingga tetes darah penghabisan, hingga tua renta masih berjuang mempertahankan benteng Xiang Yang, hingga akhirnya gugur di medan perang karena dikeroyok musuh. ITULAH DEFINISI PAHLAWAN SEJATI !!!


Heran deh sama Jin Yong, kok bisa bikin karakter Pahlawan pengecut macem Yoko yang ujung-ujungnya NGUMPET? Lebih heran lagi kalau fansnya Yoko di Indonesia malah lebih banyak dari fansnya Guo Jing.

Tapi gak heran sih, orang Indonesia kan aneh. Semakin gak nggena malah semakin terkenal. Uda banyak contohnya. Mereka yang berprestasi malah diabaikan, tapi yang gak bener (macem si 80 juta, terus macem model yang nabrak orang sambil telanjang yaitu Nikita Mir*a*i) malah terkenal. Jadi gak heran kalau pahlawan kesiangan macem Yoko lebih terkenal di Indonesia daripada THE REAL HERO seperti Guo Jing. Maklumin aja, otaknya udah kebalik >_<


Back to Story... 
Percakapan hati ke hati antara Guo Jing dan Jenghis Khan masih berlanjut. 
“Jing’er, apa kau masih ingat saat kau memohon untuk rakyat Samarkhan? Kau bilang, pahlawan harus bisa diterima oleh seluruh rakyat. Hingga sekarang, aku masih ingat perkataanmu. Sulit melupakannya.” Ujar Jenghis Khan pada Guo Jing.


Kemudian adegan beralih pada Jenghis Khan yang berjalan seorang diri di padang rumput disertai dengan narasi. 

“Aku Temujin, selalu bermimpi ingin menjadi seorang Pahlawan Sejati. Terus berperang, memperluas wilayah kekuasaan. Mereka memanggilku Serigala Gurun. Sebenarnya aku sadar, aku hanyalah orang tua yang sedang menunggu kematian. Pahlawan? Apa itu Pahlawan? Orang seperti apa yang pantas disebut pahlawan dan dihormati oleh semua orang?”


Note : Ya orang seperti Guo Jing lah. Guo Jing lah yang paling pantas disebut PAHLAWAN SEJATI, PAHLAWAN BESAR karena Guo Jing mengabdikan seluruh hidupnya demi menjaga dan melindungi benteng Xiang Yang.

Jenghis Khan wafat pada tahun 1227 di wilayah Barat. Dengan wafatnya Jenghis Khan, maka berakhirlah semua kekuasaannya di gurun. Tampak rakyat dan semua anak-anaknya memberikan penghormatan terakhir.

Kemudian adegan beralih pada Guo Jing dan Huang Rong yang sedang menunggang kuda sambil berbincang, mereka berencana kembali ke Benteng Xiang Yang untuk membantu mempertahankan kota.


Note : Tapi sebenarnya gak perlu, karena setelah Khan Agung meninggal, Mongol dilanda perang saudara untuk memperebutkan kekuasaan jadi invasi Mongol ke China terhenti selama beberapa tahun sehingga Guo Jing dan Huang Rong masih sempat pulang ke Pulau Persik dan hidup dengan damai dan bahagia di sana. Tapi ceritanya di sini memang berhenti sampai rencana ke Benteng Xiang Yang. Padahal fans LOCH berharap bisa melihat adegan pernikahan Guo Jing dan Huang Rong yang selama ini tak pernah ada.


“Kudengar Khan Agung meninggal saat sedang bermeditasi, kalimat terakhir yang diucapkannya adalah Pahlawan. Pahlawan.” Ujar Guo Jing pada Huang Rong.


“Semua orang ingin menjadi Pahlawan. Tapi pahlawan sejati itu adalah yang menyelamatkan orang lain dari bahaya. Membantu meringankan penderitaan orang lain.” Ujar Huang Rong, memberikan pendapatnya.


“Rong’er, aku pernah berjanji setelah pertandingan di Gunung Hua, aku akan membawamu berjalan-jalan dan hidup menyepi, meninggalkan dunia persilatan. Tapi sepertinya  hal itu tak bisa terlaksana. Apa kau kecewa padaku?” tanya Guo Jing pada kekasihnya.



“Yang penting hati kita bersatu. Selamanya tidak akan berpisah. Asalkan bisa bersama Kakak Jing, Rong’er tidak mengharapkan apa pun lagi.” Jawab Huang Rong dengan pengertian.

 

“Ada orang dalam kesulitan, mana mungkin tidak membantu? Entah kapan baru bisa menikmati kedamaian.” Ujar Guo Jing, seolah bisa menebak bahwa hidupnya takkan pernah ada kedamaian. (Damainya hanya 10 tahun pernikahan awal doank)


“Jing Gege, aku akan mendengarkanmu. Katakan! Kita akan pergi ke mana?’ ujar Huang Rong ceria. 

“Xiang Yang. Walaupun tidak bisa mempertahankan seluruh negara, tapi setidaknya kita bisa mempertahankan satu kota, agar rakyat Xiang Yang bisa hidup tenang.” Jawab Guo Jing mantap.


TAMAT.

Blogger Opinion : 
Haaahhh... Aku sangat suka versi LOCH 2017 ini. THE BEST LOCH ADAPTATION SO FAR !!! Sekarang bagiku, "The Legend Of The Condor Heroes 2017" ini adalah versi TERFAVORITE dari semua adaptasi yang pernah dibuat. 



Terima kasih telah memilih William Yang Xuwen sebagai Guo Jing. Akhirnya penantianku selama 23 tahun yang ingin melihat GUO JING YANG GANTENG TERWUJUD di versi William Yang Xuwen. 

 William Yang Xuwen as Guo Jing 2017 (Short Hair)

 William Yang Xuwen as Guo Jing 2017 (Long Hair)

Apalagi sebelumnya sempat down dan sangat kesal setelah melihat versi LOCH 2003 di mana Guo Jing-nya ancur lebur pesek gak ketulungan, gak enak dipandang blas, bikin sepet mata. Hal ini karena sebelumnya di tahun 1994 ada Julian Cheung sebagai Guo Jing yang manis semanis gula, lah kok di versi barunya malah ancur lebur kayak gini sih? Langsung bete setengah idup >_< Down grade banget kesannya >__< Penurunan peringkat.

Li Ya Pheng (Guo Jing 2003) yang ancur lebur gak karuan >_< Maaf, Anda Guo Jing atau bapaknya Guo Jing, ya? Masak remaja umur 18 tahun tapi wajahnya kayak bapak-bapak gini? Loe makan apaan, kok sampai wajahmu mengalami penuaan dini kayak gini? Salah casting, bos! *tepok Jidat* Jauh banget  sama William Yang Xuwen, bagai Surga dan Neraka >__< Yang satu imut-imut, yang ini amit-amit.

Sempet happy waktu ada versi Hu Ge, tapi lah kok rambutnya jelek amat? Gimbal kayak orang gak pernah keramas >__< Gak jadi happy karena rambutnya Hu Ge gimbal. Coba style rambutnya Hu Ge dibuat seperti saat Hu Ge berperan sebagai Li Xiao Yao di "Chinese Paladin 1" atau Ning Chai Cheng di "Chinese Ghost Story" atau mungkin seperti saat Hu Ge menjadi Yang Liu Lang di "Young Warrior Of The Yang Clan 2006", mungkin akan lain cerita. 

Walaupun gak nyaman dengan modifikasi yang kebablasan di LOCH 2008, tapi jika saja rambutnya Hu Ge sedikit lebih baik, mungkin bisa deh ditahan-tahanin nontonnya T__T tapi ternyata rambutnya mengecewakan. Ditambah lagi, Guo Jing versi Hu Ge terlihat idiot dan tolol. Berbeda dengan William Yang dan Julian Cheung yang lugu dan polos.


Mungkin yang kurasakan saat melihat rambutnya Hu Ge di LOCH 2008 sama seperti yang dirasakan oleh para wuxia lovers era jadul yang juga tidak menyukai style rambut William Yang Xuwen yang imut dengan poni lemparnya. Sebenarnya ini semua kembali pada selera masing-masing orang. Well, people have taste right? 
. 
Hu Ge (Guo Jing 2008). See? Kayak orang yang berbulan-bulan gak keramas, kan? >__<

Style Hu Ge yang di mataku jelek dan gimbal kayak orang gak keramas berbulan-bulan, tapi di mata orang lain mungkin cocok-cocok aja. 

Sama seperti style rambut William Yang Xuwen dengan poni manisnya yang di mataku membuatnya tampak imut dan ganteng abis seperti idol Korea, tapi di mata para wuxia lover era jadul justru tampak jelek dan gak cocok untuk karakter Guo Jing yang notabene-nya seorang Pendekar Besar. Jika seperti ini, maka semuanya kembali pada selera masing-masing orang.


Tapi bagiku, baru di versi LOCH 2017 ini akhirnya mataku TERPUASKAN. Style rambutnya William Yang Xuwen SANGAT PAS DAN SESUAI DENGAN SELERAKU yang memang sangat menyukai boyband korea. Jadi melihat style rambut Guo Jing 2017 yang kata wuxia lovers garis keras tampak ala-ala boyband Korea, kok aku malah suka banget, ya? Hahaha ^_^


Didukung dengan paras William Yang Xuwen yang memang sudah rupawan, ganteng macem idol Kpop, makin sreg di hatiku. Bahkan dengan mudahnya William Yang Xuwen menggeser posisi Julian Cheung yang sudah bertahan sebagai Guo Jing terfavorite selama 23 tahun ini. 

Terima kasih sekali lagi kepada pihak rumah produksi Huace Media yang sudah memilih William Yang as Guo Jing 2017 dan memberinya kostum serta style rambut yang pas di wajah ganteng sang do’i.



Dan tak lupa dengan modifikasi kecil super kreatif yang membuat serial ini semakin terasa manis, romantis dan dramatis namun tanpa terkesan berlebihan. 





Juga alur cerita yang berjalan cepat, tidak bertele-tele dan sangat mirip dengan novelnya sekitar 95%. Tak lupa juga setting indah yang memanjakan mata serta pencahayaan terang yang menambah kesejukan mata. Di bawah ini adalah beberapa contoh setting yang memanjakan mata.
 Peach Blossom Island (Pulau Bunga Persik)

 Danau tempat Guo Jing dan Huang Rong kencan pertama kali. Indah kan settingnya? Sangat memanjakan mata penonton ^_^

Selain setting yang indah dan memanjakan mata penonton, pemain yang overall good looking juga merupakan salah satu keunggulan versi ini. Hanya orang yang gak normal aja yang gak suka melihat cowok ganteng dan cewek cantik. Di versi ini, para pemain eyes candy bertebaran. Dijamin tidak rugi jika melihat serial yang dibanjiri dengan pemain yang ganteng dan cantik yang memanjakan mata siapa pun yang menontonnya.




Walaupun Li Yi Tong (Huang Rong) kurang cantik bila dibandingkan dengan Meng Chi Yi (pemeran Mu NIan Chi) dan Dai Wen Wen (pemeran Putri Hua Cheng), tapi setidaknya dia tidak membuatku terganggu seperti Barbara Yung ataupun Ariel Lin. Huang Rong versi Li Yi Tong cukup enak untuk ditonton, karena aku menyukai karakter Huang Rong yang baik hati, menurut pada Jing Gege, selalu mengalah walaupun sangat cerewet, namun di sisi lain sangat pintar dan banyak akal. 



Tapi walaupun gak cantik-cantik amat, namun bila dilihat dari angle yang tepat, Li Yi Tong masih terlihat imut dan manis. Tapi, kalau angle-nya pas, ya ^_^ 

  
 Li Yi Tong (Huang Rong 2017) terlihat imut, cantik dan aura cerdas dan nakalnya juga keluar kalau angle-nya pas seperti ini ^_^

For me, she is BETTER than Chou Shun and Idy Chan yang terlihat seperti TANTE-TANTE and BETTER than Ariel Lin yang tembem dan gendut.  

Secara keseluruhan, aku akan memberi rating 9/10 hanya karena Huang Rong-nya kalah cantik bila dibandingkan dengan pemain lainnya, seperti Meng Chi Yi (Mu Nian Chi) dan Dai Wen Wen (Princess Hua Cheng). Namun sisanya SEMPURNA !!! 

Well, Tak ada gading yang tak retak, kan? Setiap adaptasi PASTI memiliki kekurangan dan kelebihan.

Dan bila Anda tidak setuju dengan pendapat bloggernya, harap diingat bila setiap orang punya selera. 

Let's respect others opinion, especially THE BLOGGER !!!

Written by : Liliana Tan 
NOTE : DILARANG MENG-COPY PASTE TANPA IJIN DARI PENULIS !!! REPOST WITH FULL CREDITS !!! 
Credit Pict : WEIBO ON LOGO