Saturday, February 28, 2015

Ost Fairy From Wonderland – Thien Liang Yi Hou / After Sunrise / Setelah Matahari Terbit (天亮以後) / By : Hu Ge

Translation By : LIANA HWIE
Song By : Hu Ge (胡歌)
Original Television Soundtrack : Fairy From Wonderland (天外飛仙) 2005



“Ost Fairy From Wonderland – Thien Liang Yi Hou / After Sunrise / Setelah Fajar (天亮以後) / By : Hu Ge”


       

Lyrics Translation :








客棧前那一座橋
Khe chan chien na yi chuo ciao
( Tak jauh dari penginapan ini, ada sebuah jembatan...)

或許我們都到不了
Huo shi wo men tou tao pu liao
( Tapi mungkin kita takkan sempat mengunjunginya )

沒有理由在苦笑 只是煎熬
Mei yu li yu cai khu siao, che she chien ao
( Tak ada alasan untuk tersenyum dalam tangis, karena yang ada hanyalah penderitaan )

反覆練習的擁抱
Fan fu lien shi te yung pao
( Saling berlatih memeluk sekali lagi...)

天亮以後就看不到
Thien liang yi hou ciu kan pu tao
( Tapi setelah matahari terbit, kau tidak akan mampu melihatnya lagi )

不能陪你到蒼老 陪你到老
Pu neng pei ni tao chang lao, pei ni tao lao
( Tak bisa menemanimu hingga rambut memutih, menemanimu hingga tua )

我不知道 還有誰能像我讓你依靠
Wo pu che tao, hai yu shei neng siang wo rang ni yi khao
( Aku tidak tahu siapa lagi selain aku yang bisa kau andalkan untuk bergantung )

我只希望 你會牢記我的好
Wo che shi wang, ni huei lao chi wo te hao
( Aku hanya berharap, kau akan mengingat kebaikanku )


REFF :
天亮以後就再也牽不到你的手
Thien liang yi hou ciu cai ye chien pu tao ni te shou
( Setelah fajar, aku takkan mampu lagi menggenggam tanganmu )

天亮以後我會慢慢離開你的夢
Thien liang yi hou wo huei man man li khai ni te mung
( Setelah fajar, aku akan perlahan-lahan pergi dari mimpimu )

不敢說再見就是無法說出口
Pu khan shuo cai cien ciu she wu fa shuo chu kou
( Tidak berani mengucapkan selamat tinggal, sulit sekali bagiku mengucapkan selamat tinggal )

天亮以後留住你該用什麼理由
Thien liang yi hou liu chu ni khai yung shen mo li yu
( Setelah fajar, tidak adakah alasan yang bisa membuatmu tetap tinggal ??)

天亮以後留下的就只剩下寂寞
Thien liang yi hou liu shia te ciu chi sheng shia chi mo
( Setelah fajar, yang tertinggal hanyalah kesepian )

別難過所有的痛都由我默默承受
Pie nan khuo suo yu te thung tou yu wo muo muo cheng shou
( Jangan merasa sedih karena aku akan berusaha menahan semua rasa sakit ini )


** 我以為我做得到
Wo yi wei wo chuo te tao
( Kupikir aku akan bisa...)

抱著你到天荒地老
Pao chu ni tao thien huang thi lao
( Memelukmu hingga hari tua )

愛你我感到驕傲  什麼都好
Ai ni wo khan tao ciao ao, shen mo tou hao
( Mencintaimu membuatku merasa bangga, segalanya terasa sempurna )

期待著你的擁抱
Chi tai chu ni te yung pao
( Sangat menantikan pelukanmu...)

也許這機會太渺小
Ye shi che chi huei tai miao siao
( Tapi mungkin kesempatan itu terlalu kecil )

流著眼淚苦著笑 我怎麼逃
Liu chu yen lei khu chu siao, wo chen mo tao
( Sambil meneteskan airmata, berusaha keras untuk tersenyum, bagaimana bisa aku melarikan diri dari semua ini? )

空蕩的夢怎麼寫我們的從今以後
Khung thang te mung chen mo sie wo men te chung chin yi hou
( Impian yang kosong, bagaimana aku akan menuliskannya mulai sekarang ?? )

握緊著手看不到再見的盡頭
Wo chin chu shou kan pu tao cai chien te chin tou
( Menggenggam erat tanganmu, aku tak mampu melihat ujung jalan ini )


REFF :
天亮以後就再也牽不到你的手
Thien liang yi hou ciu cai ye chien pu tao ni te shou
( Setelah fajar, aku takkan mampu lagi menggenggam tanganmu )

天亮以後我會慢慢離開你的夢
Thien liang yi hou wo huei man man li khai ni te mung
( Setelah fajar, aku akan perlahan-lahan pergi dari mimpimu )

不敢說再見就是無法說出口
Pu khan shuo cai cien ciu she wu fa shuo chu kou
( Tidak berani mengucapkan selamat tinggal, sulit sekali bagiku mengucapkan selamat tinggal )

天亮以後留住你該用什麼理由
Thien liang yi hou liu chu ni khai yung shen mo li yu
( Setelah fajar, tidak adakah alasan yang bisa membuatmu tetap tinggal ??)

天亮以後留下的就只剩下寂寞
Thien liang yi hou liu shia te ciu chi sheng shia chi mo
( Setelah fajar, yang tertinggal hanyalah kesepian )

別難過所有的痛都由我默默承受
Pie nan khuo suo yu te thung tou yu wo muo muo cheng shou
( Jangan merasa sedih karena aku akan berusaha menahan semua rasa sakit ini )

不敢說再見就是無法說出口
Pu khan shuo cai cien ciu she wu fa shuo chu kou
( Tidak berani mengucapkan selamat tinggal, sulit sekali bagiku mengucapkan selamat tinggal )

天亮以後留住你該用什麼理由
Thien liang yi hou liu chu ni khai yung shen mo li yu
( Setelah fajar, tidak adakah alasan yang bisa membuatmu tetap tinggal ??)

天亮以後留下的就只剩下寂寞
Thien liang yi hou liu shia te ciu chi sheng shia chi mo
( Setelah fajar, yang tertinggal hanyalah kesepian )

別難過所有的痛都由我默默承受
Pie nan khuo suo yu te thung tou yu wo muo muo cheng shou
( Jangan merasa sedih karena aku akan berusaha menahan semua rasa sakit ini )


Photos Credit : Credit ON LOGO

Wednesday, February 25, 2015

Ost Chinese Paladin – Liu Yue Te Yi (Hujan di bulan Juni) 六月的雨 / By : Hu Ge (胡歌)

Translation By : LIANA HWIE
Song By : Hu Ge (胡歌)
Original Television Soundtrack : Chinese Paladin 2005



“Ost Chinese Paladin – Liu Yue Te Yi (Hujan di bulan Juni) 六月的雨 / By : Hu Ge (胡歌)”


        


Lyrics Translation : 






* 一場雨 把我困在這裏
Yi chang ih pha wo khuen cai che li
( Hujan ini membuatku terperangkap disini )

你冷漠的表情會讓我傷心
Ni leng muo te piao ching huei rang wo shang sin
( Sikapmu yang dingin membuat hatiku sakit )

六月的雨 就是無情的你
Liu yue te ih ciu she wu ching te ni
( Hujan di bulan Juni sama tidak berperasaannya sepertimu )

伴隨著點點滴滴痛擊我心裏
Phan suei che thien thien thi thi thung chi wo sin li
( Tetes demi tetes jatuh dari langit dengan deras dan menyakiti hatiku )


** Oh 我不相信 你不是故意的
Oh wo pu siang sin ni pu she khu yi ti
( Aku tidak percaya kau tidak sengaja melakukannya )

卻為何把我丟棄在風雨裏
Cuei wei he pha wo tiu chi cai feng ih li
( Bila kau memang tidak sengaja, mengapa kau meninggalkanku sendirian di tengah hujan ?? )

Oh 我不忍心 也不想背叛你
OH wo pu ren sin ye pu siang pei phan ni
( Aku tak berniat dan tak berani mengkhianatimu )

唯有默默等你 回心轉意
Wei yu muo muo teng ni huei sin chuan yi
( Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu ditengah hujan untukmu )


REFF :
我沒有放棄 也不會離你而去
Wo mei yu fang chi ye pu hai li ni er chi
( Aku takkan menyerah, juga takkan pernah meninggalkanmu )

那怕要分開 我依然等你
Na pha yao fen kai wo yi ran teng ni
( Bahkan walaupun kita berpisah, aku akan selalu menunggumu )

我全心全意 等你的消息
Wo chien sin chien yi teng ni te siao shi
( Aku akan selalu menunggu kabar darimu dengan seluruh hatiku )

總會有一天 你會相信我 我愛你
Chung huei yu yi thien ni huei siang sin wo, wo ai ni
( Akan ada suatu hari dimana kau akan percaya bahwa aku mencintaimu )

一場雨 想念你 在我的 心中都不可比擬
Yi chang ih siang nien ni cai wo te sin chung tou pu khe yi ni
( Kerinduanku seperti hujan ini, dalam hatiku tak ada yang menggantikanmu )

你走後 什麼都 已經消失在風雨裡
Ni cou hou shen mo tou yi ching siao she cai feng ih li
( Sekali kau pergi, tak ada yang tertinggal ditengah hujan ini kecuali penantianku )

一場雨 想念你 我愛你
Yi chang ih siang nien ni, wo ai ni
( Kerinduanku seperti hujan ini, aku mencintaimu )

Back To *, **, REFF

Sunday, February 22, 2015

Danau Sihu, tempat yang sarat kisah romantis namun berakhir duka



Danau Sihu sangat terkenal, bukan hanya Legenda Siluman Ular Putih saja, bahkan dalam novel Revisi ketiga “Pendekar Pemanah Rajawali” atau “Legend Of The Condor Heroes” jilid 3 halaman 117 pun sempat disinggung bahwa kedua tokoh utama, Guo Jing dan Huang Rong pernah berkencan di Jembatan Patah Hati ini. Sebenarnya saya sudah pernah membahas tentang “Keindahan Danau Sihu dan Legenda Siluman Ular Putih”, tapi saat itu saya tidak hanya membahas tentang Danau Sihu dan Legenda Siluman Ular Putih saja, tetapi juga membahas sedikit tentang berbagai obyek wisata di Hangzhou - China selain Danau Sihu, yang juga menarik untuk dikunjungi. Itu sebabnya kali ini saya ingin membahas sekali lagi tentang Danau Sihu yang juga terkenal sebagai Danau Barat atau West Lake ini. Hhhhmm..but this time, no White Snake Legend story hehehe =) Only focus on Danau Sihu.


“Danau Sihu, tempat yang sarat kisah romantis namun berakhir duka”






Hangzhou, China memiliki banyak sekali obyek wisata alam yang indah yang sangat menarik untuk dikunjungi tetapi kali ini saya hanya ingin membahas tentang Danau Sihu atau West Lake. Jujur, pertama kali saya mendengar tentang Danau ini adalah saat menonton serial silat Siluman Ular Putih atau White Snake Legend karena memang dalam legenda disebutkan bahwa Danau Sihu ini menjadi tempat pertemua. The Broken Bridge atau Jembatan Patah Hati di Hangzhou, China konon adalah tempat Pai Shu Chen berpisah dengan suaminya, Xu Xian. Bahkan dalam soundtrack White Snake Legend versi 1993 yang berjudul “Chien Nien Teng Ik Huei (Seribu Tahun Menanti)” ada liriknya yang berbunyi “Si Hu te suei wo te lei” yang artinya “Air di danau Sihu adalah airmataku.” Well, berhubung saat malam Imlek tanggal 19 Februari 2015 lalu, Global TV memutar film “The Sorcerer and The White Snake 2011” dan dalam cerita ada adegan Pai Shu Chen menenggelamkan Pagoda Lei Feng dengan air di Danau Sihu, saya jadi ingin membuat satu lagi postingan yang membahas tentang Danau ini.




Danau Sihu atau Danau Barat terletak di bagian barat kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China. Pada zaman dahulu, danau ini pernah bernama Air Wulin, Danau Qiantang, dan Danau Xizi. Nama Danau Sihu ("Danau Barat") mulai digunakan pada zaman Dinasti Sung. Danau Barat sangat terkenal di China maupun mancanegara karena pemandangan alamnya yang istimewa, juga karena banyaknya peninggalan bersejarah di sekitarnya, bahkan sampai dijuluki sebagai "Surga di bumi".




Danau Sihu atau Danau Barat termasuk "Objek Turisme Pemandangan Utama Nasional China" gelombang pertama dan "Sepuluh Besar Pemandangan China". Pada 24 Juni 2011 Danau Barat dimasukkan dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Danau Sihu atau Danau Barat dikelilingi gunung pada ketiga sisinya. Luas danau ini mencapai 6,5 kilometer persegi, dengan panjang dari utara ke selatan 3,2 kilometer, dan dari timur ke barat 2,8 kilometer. Danau ini dibelah menjadi lima bagian oleh Bukit Gu, Tanggul Bai, Tanggul Su, dan Tanggul Yanggong.




Kelima bagian Danau Barat itu berdasar urutan dari yang terluas sampai terkecil antara lain: Danau Barat Luar, Danau Dalam Barat ("Danau Barat Belakang" atau "Danau Belakang"), Danau Dalam Utara (atau "Danau Barat Dalam"), Danau Selatan Kecil (atau "Danau Selatan"), dan Danau Yue. Bukit Gu adalah pulau alami terbesar yang berada di tengah Danau Barat, sementara Tanggul Bai dan Tanggul Su membentang melintasi danau. Selain itu, masih ada tiga pulau buatan yang berada di Danau Barat Luar, yaitu Xiao Ying Zhou, Hu Xinting, dan Ruan Khong Dun.




Di kedua sisi danau terdapat dua pagoda yang saling berhadapan, yaitu Pagoda Leifeng di atas bukit Xizhao dan Pagoda Baoshu di atas bukit Baoshi. Karena itu, formasi Danau Barat bisa disimpulkan sebagai "satu gunung, dua pagoda, tiga pulau, tiga tanggul, lima danau".




Impresi utama dari Danau Barat adalah gunung menjulang dan danau membentang, merupakan persinggungan antara pemandangan alam dan budaya. Keajaiban Danau Barat terletak pada pemandangan danau yang dikepung gunung, aura danau dan gunung saling menguatkan. Kecantikan Danau Barat adalah permukaan air yang berkilauan di hari cerah dan gunung yang diselimuti kabut di saat hujan. Pemandangan Danau Barat senantiasa berubah bersama imajinasi, baik ketika cuaca cerah maupun mendung, hujan maupun bersalju, pagi maupun senja. Danau Barat memiliki pesona khas untuk tiap musim: bunga-bunga di musim semi, bulan di musim gugur, teratai di musim panas, dan salju di musim dingin.




Tanggul Su membentang melintasi Danau Barat, mencapai 2,8 kilometer dari utara ke selatan. "Di Danau Barat enam jembatan terbentang; berhias dedalu menjulang berseling persik terkembang". Dari selatan sampai utara terdapat sejumlah jembatan terkenal khas Danau Barat yang disebut sebagai "enam jembatan dedalu berkabut", antara lain: Jembatan Yingbo (Pantulan Riak), Suolan (Pengunci Gelombang), Yadi (Tanggul Penolak Bala), Wangshan (Memandang Gunung), Dongpu (Muara Timur), dan Kuahong (Melintas Pelangi).




Nama Tanggul Su ini adalah untuk mengenang jasa pujangga terkenal dari Dinasti Sung Utara, Su Dongpo. Pada saat bertugas sebagai kepala daerah di Hangzhou, Su Dongpo membangun tanggul ini dengan menggali endapan lumpur di dasar danau. Tanggul Su menghubungkan Bukit Selatan dengan Bukit Utara, serta menambah garis yang elok di atas permukaan danau. Selain itu, pohon dan bunga yang menghiasi tanggul juga menyajikan warna-warni berbeda dalam setiap musim. Tak heran pemandangan indah nan puitis ini diposisikan sebagai yang paling utama dari "Sepuluh Pemandangan Danau Barat".




Purnama Musim Gugur di Danau Tenang, letaknya ada di ujung selatan Bukit Gu, menghadap ke Danau Barat Luar. Pemandangan alami di sini dilukiskan dengan bait: "Rupa danau luas membentang tenang laksana cermin, purnama musim gugur paling sempurna dalam setahun". Di sini dibangun koridor yang berkelok-kelok, sederhana namun anggun, dan berakhir pada tiga anjungan yang menjorok ke danau dan menghadap ke arah selatan, sehingga pengunjung dapat menyaksikan pemandangan luas membentang.




Pemandangan Danau Barat dari sini selalu menakjubkan, baik ketika cuaca cerah ataupun hujan. Apalagi ketika duduk di anjungan menikmati terbitnya purnama paling bundar di pertengahan musim gugur yang terpantulkan oleh danau, sehingga tampak bagaikan ada satu bulan di langit dan satu bulan di atas permukaan air yang bersinergi memancarkan sinar. Ditambah dengan pemandangan gunung-gunung berbaris, juga bunga dan pepohonan empat musim, ini sungguh panorama yang teramat puitis.




Angin Teratai di Halaman Chi terletak di tepi Jembatan Hongchun, di Jalan Lingyin kota Hangzhou. Konon pada awal periode Shaoxing Dinasti Sung Selatan, di daerah ini terdapat pabrik yang membuat arak hanya bagi istana, dan di kawasan sekitar pabrik ditanami teratai. Setiap angin musim panas berembus sepoi-sepoi, harumnya teratai bercampur dengan wanginya arak begitu memabukkan, hingga tempat ini dijuluki sebagai "angin teratai di halaman Chi (ragi arak)".




Setelah zaman Dinasti Sung Selatan berakhir, pabrik arak itu juga tinggal sejarah, sehingga pemandangan istimewa ini pun hilang. Pada masa awal Dinasti Ching, dibangun sebuah anjungan baru di sebelah barat Jembatan Melintasi Pelangi, yang juga dipenuhi teratai. Saat Kaisar Kangxi datang berkunjung, nama lokasi ini diubah menjadi "angin teratai di halaman Chi dengan nama Chi yang berarti kelokan. Kaisar Kangxi juga memasukkan lokasi ini dalam sepuluh pemandangan utama, serta mendirikan sebuah anjungan peringatan. Sekarang di sini telah dibangun Taman Angin Teratai di Halaman Chi. 




Jembatan Patah Hati atau The Broken Bridge adalah jalan yang harus dilewati menuju Bukit Gu. Sehabis hujan salju, orang pasti akan berbondong datang untuk menikmati pesona unik pemandangan Danau Barat di musim dingin. Jembatan Patah Hati dipenuhi pengunjung yang mengagumi pemandangan putih sempurna pada Bukit Gu dan Danau Barat Dalam. Itulah sebabnya pemandangan ini dikenal sebagai "Salju Meleleh di Jembatan Patah Hati". 




Menambah romantisme Jembatan Patah Hati atau The Broken Bridge ini adalah kisah legendaris "Legenda Siluman Ular Putih". Konon di atas jembatan inilah si Siluman Ular Putih berjumpa dan berpisah dengan kekasihnya, Xu Xian. Apabila kita berdiri di ujung jembatan, terlihatlah pemandangan rupawan danau di sekeliling dan gunung di kejauhan. Jembatan Patah Hati adalah lokasi paling istimewa untuk mengagumi keindahan pemandangan salju di Danau Barat.






Bahkan dalam novel Revisi ketiga “Pendekar Pemanah Rajawali” atau “Legend Of The Condor Heroes” jilid 3 halaman 117 pun sempat disinggung bahwa kedua tokoh utama, Guo Jing dan Huang Rong pernah berkencan di Jembatan Patah Hati ini sesaat sebelum mereka melihat Wan Yen Hong Lieh dan para pengikutnya sedang berjalan menikmati keindahan Danau Sihu sekaligus mencari tempat disimpannya kitab perang Bubok (Wu Mu Yi Shu) yang menurut kabar ada di Istana Kaisar di Hangzhou.




Didalam novel disebutkan : “Jembatan Patah Hati adalah salah satu tempat terkenal di Danau Barat. Saat itu pertengahan musim panas dan di bawah jembatan penuh bunga teratai. Huang Rong melihat di tepi jembatan ada kedai arak yang mewah. “Mari kita minum arak sambil memandang bunga teratai.”


 Guo Jing and Huang Rong versi 1994


“Bagus,” kata Guo Jing. Mereka masuk dan duduk. Pelayan menghidangkan arak dan makanan. Keduanya minum arak sambil menikmati keindahan teratai. Hati mereka gembira. Huang Rong melihat di jendela yang menghadap ke timur terdapat tirai, di atasnya ada penutup awan hijau. Tampaknya pemilik kedai menghargai benda itu. Rasa ingin tahunya muncul, kemudian ia pergi melihat-lihat. Tampak di bawah tirai puisi “Angin di Pohon Pinus” yang berbunyi : 
 
Sepanjang musim semi kubeli bunga. 
Mabuk di tepi danau hari demi hari.
Kuda putihku hafal jalan ke Danau Barat.
Tiba di depan kedai arak meringkik bangga.
Menyanyi dan menari di keharuman aprikot merah.
Berayun di bayangan pohon liu hijau. 
Angin hangat lima kilo wanita cantik dan langit.
Bunga ditancapkan di rambut pelipis miring. 
Lukisan perahu menyambut musim semi. 
Meninggalkan perasaan di danau berkabut. 
Esok sangga sisa mabuk, 
Datang kembali mencari hiasan rambut.”

Well, itu adalah sepenggal kalimat dalam novel revisi ketiga “Pendekar Pemanah Rajawali” atau “Legend Of The Condor Heroes” karangan Jin Yong yang mengisahkan sedikit tentang Danau Barat atau Danau Sihu. Bahkan dari beberapa baris kalimat itu saja, saya sudah bisa membayangkan keindahan tempat itu. Tak salah rasanya jika Hangzhou dijuluki “Surga di Bumi.”

Credit : CRI + novel Pendekar Pemanah Rajawali revisi Terbaru karya Jin Yong.