Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2016

Negara Wisata Kunjungan Imlek Paling Populer di Dunia

Hari raya imlek akan berlangsung sebentar lagi. Dan beberapa negara favorite dan populer untuk merayakan hari istimewa tersebut telah berbenah untuk menyambut pengunjung yang berlibur untuk perayaan imlek tersebut. 

"Negara Wisata Kunjungan Imlek Paling Populer di Dunia"






Persiapan mulai dari menghias kota-kota utama, serta biasanya mal dan pusat perbelanjaan juga memberikan diskon khusus. Konon Imlek bukan perayaan agama tetapi budaya. 

Jadi apa pun agamanya, biasanya tetap memperingati Tahun Baru Cina ini asalkan etnis dari negara tersebut. Apa saja negara favorite tersebut? Silakan simak info di bawah ini.

Adapun 7 negara yang populer dengan wisata perayaan imleknya di dunia adalah:

1. China. 
Sudah pasti semua kota merayakan hari raya ini. Tetapi yang cukup populer menjadi tujuan wisata saat Chinese lunar ini adalah kota Beijing dan Guangzhou. Kemeriahannya melebihi tahun baru kalender masehi.

2. Hongkong. 
Tempat ini menjadi sangat populer untuk perayaan sejak beberapa tahun yang lalu dinobatkan sebagai penyelenggara spektakuler pesta kembang api terindah dan terbesar. Tetapi gelar ini digantikan oleh Dubai saat new year tahun 2015.

3. Singapura. 
Negara ini menjadi tinggi kunjungannya karena beberapa event yang rutin dilakukan. Wisata Singapura menjadi favorite saat digelar event Spore great sale, balap Formula one Night race, dan Tahun baru Imlek.

4. Taiwan. 
Sebagai bagian dari etnis China, negara ini cukup populer sebagai tempat kunjungan perayaan Imlek dari seluruh dunia.

5. Thailand. 
Ada tiga wilayah di negara ini yang cukup populer baik untuk kegiatan wisata maupun perayaan tradisi yang identik dengan warna merah ini. Kota Bangkok, Pattaya dan Phuket adalah tujuan favoritenya.

6. Malaysia. 
Walaupun Malaysia adalah negara islam tetapi penduduk etnis cina melayu sangat dominan. Dan ini membuktikan bahwa perayaan imlek adalah tradisi bukan religi. Beberapa tahun yang lalu negara ini menjadi kunjungan utama warga Indonesia keturunan Chinese yang berasal dari Sumatera, tetapi sekarang beralih ke Hongkong dan Singapore.

7. Vietnam. 
Negara ini baru beberapa tahun terakhir saja diserbu oleh wisatawan untuk merayakan tahun baru. Mungkin kemeriahannya tidak sebesar di negara lain, tetapi karena wisata alam Vietnam cukup bagus dan etnis Chinese cukup dominan, maka jadilah tempat ini sebagai tujuan kunjungan perayaan.

Demikian informasi negara-negara yang dikenal merayakan tahun baru imlek secara besar-besaran, spektakuler, mewah dan difavoritekan oleh pengunjung. Biasanya, acara ini identik dengan pesta kembang api dan barongsai. Kemana anda merencanakan liburan untuk lunar kali ini? Kami ucapkan selamat berlibur dan Gong xi fa cay.

Credit : Nelson Sitompul from www.wisatania.co.id

Kamis, 04 Februari 2016

Berbagai Perayaan Festival Ternama di Taiwan

Dalam kalender perayaan Cina di Indonesia, kita mengenal beragam perayaan, di antaranya Imlek, Cap Go Meh, Pek Chun atau festival perahu naga, hari lahir Dewi Kwan Im dan perayaan bakar tongkang. 

"Berbagai Perayaan Festival Ternama di Taiwan"






Di Taiwan, terdapat gelaran serupa maupun berbeda. Inilah beberapa di antaranya :

1. Chun Jie atau Imlek alias tahun baru. Inilah acara kumpul keluarga nan meriah dan biasanya berlangsung sampai tiga hari. Pastikan untuk datang lebih awal atau setidaknya, karena pada hari-hari itu penginapan dan restoran akan tutup karena para pekerja merayakan bersama keluarga masing-masing.

2. Yuangxiao Jie atau Cap Go Meh. Berlangsung pada purnama pertama setelah Imlek. Selain membuat klepon untuk dinikmati bersama, terdapat tradisi menerbangkan lampion atau Shang Yuan. Silakan mendatangi kota-kota yang memiliki atraksi lampion menarik seperti Pinxi, Kaohsiung dan Taipei.

3. Hari arwah atau hari bersih makam alias Qing Ming Jie, biasanya jatuh sekitar awal April. Anda dapat menyimak warga Taiwan berduyun-duyun kembali ke kota kelahiran untuk membersihkan makam leluhur serta membakar uang kertas atau jinzhi.

4. Hari ulang tahun Dewi Matsu atau Tachia Matsu, dirayakan sekitar minggu ketiga pada bulan ketiga penanggalan Imlek. Sang dewi ini adalah pelindung para pelaut dan nelayan. Mengingat Taiwan merupakan sebuah pulau (berbentuk mirip selembar daun) yang dikelilingi massa lautan, maka dapat dipastikan seluruh kelenteng untuk menghormati Dewi Matsu dipenuhi oleh peziarah dari dalam negeri mereka.

5. Festival perahu naga atau Duanwu Jie. Digelar pada hari kelima bulan kelima setelah perayaan Imlek. Para peziarah mendaraskan doa, menyantap bakcang lalu mengadu kecepatan mengayuh perahu naga dalam balapan di sungai.

6. Festival musim gugur atau Moon Festival alias Zhongqiu Jie. Jatuh sekitar pertengahan bulan ke-delapan Imlek. Di saat itulah bentuk Bulan dianggap paling bulat dan paling terang dalam setahun. Beberapa latar belakang berkait dengan perayaan ini, seperti syukuran kaum petani setelah panen, legenda Dewi Bulan sampai kisah perempuan yang menenun di bawah sinar Bulan.

Acara perayaan adalah berkumpul bersama seluruh anggota keluarga, menyantap kue bulan berisi kuning telur atau kacang merah serta berbagai variasinya ditemani teh cina sembari melihat Bulan benderang dan bulat utuh.

Jadi, jangan ketinggalan untuk menikmati festival menarik ini serta merayakan kebersamaan  warga setempat. 

Sedikit tips : teliti kalender Cina jauh-jauh hari untuk alokasi waktu, akomodasi dan transportasi sehingga tidak kehabisan.

Penanggalan ini dibuat berdasarkan perhitungan Bulan sehingga setiap tahun tanggalnya dapat berubah.

Credit : R. Ukirsari Manggalani from Nationalgeographic.co.id

Minggu, 22 Februari 2015

Danau Sihu, tempat yang sarat kisah romantis namun berakhir duka



Danau Sihu sangat terkenal, bukan hanya Legenda Siluman Ular Putih saja, bahkan dalam novel Revisi ketiga “Pendekar Pemanah Rajawali” atau “Legend Of The Condor Heroes” jilid 3 halaman 117 pun sempat disinggung bahwa kedua tokoh utama, Guo Jing dan Huang Rong pernah berkencan di Jembatan Patah Hati ini. Sebenarnya saya sudah pernah membahas tentang “Keindahan Danau Sihu dan Legenda Siluman Ular Putih”, tapi saat itu saya tidak hanya membahas tentang Danau Sihu dan Legenda Siluman Ular Putih saja, tetapi juga membahas sedikit tentang berbagai obyek wisata di Hangzhou - China selain Danau Sihu, yang juga menarik untuk dikunjungi. Itu sebabnya kali ini saya ingin membahas sekali lagi tentang Danau Sihu yang juga terkenal sebagai Danau Barat atau West Lake ini. Hhhhmm..but this time, no White Snake Legend story hehehe =) Only focus on Danau Sihu.


“Danau Sihu, tempat yang sarat kisah romantis namun berakhir duka”






Hangzhou, China memiliki banyak sekali obyek wisata alam yang indah yang sangat menarik untuk dikunjungi tetapi kali ini saya hanya ingin membahas tentang Danau Sihu atau West Lake. Jujur, pertama kali saya mendengar tentang Danau ini adalah saat menonton serial silat Siluman Ular Putih atau White Snake Legend karena memang dalam legenda disebutkan bahwa Danau Sihu ini menjadi tempat pertemua. The Broken Bridge atau Jembatan Patah Hati di Hangzhou, China konon adalah tempat Pai Shu Chen berpisah dengan suaminya, Xu Xian. Bahkan dalam soundtrack White Snake Legend versi 1993 yang berjudul “Chien Nien Teng Ik Huei (Seribu Tahun Menanti)” ada liriknya yang berbunyi “Si Hu te suei wo te lei” yang artinya “Air di danau Sihu adalah airmataku.” Well, berhubung saat malam Imlek tanggal 19 Februari 2015 lalu, Global TV memutar film “The Sorcerer and The White Snake 2011” dan dalam cerita ada adegan Pai Shu Chen menenggelamkan Pagoda Lei Feng dengan air di Danau Sihu, saya jadi ingin membuat satu lagi postingan yang membahas tentang Danau ini.




Danau Sihu atau Danau Barat terletak di bagian barat kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China. Pada zaman dahulu, danau ini pernah bernama Air Wulin, Danau Qiantang, dan Danau Xizi. Nama Danau Sihu ("Danau Barat") mulai digunakan pada zaman Dinasti Sung. Danau Barat sangat terkenal di China maupun mancanegara karena pemandangan alamnya yang istimewa, juga karena banyaknya peninggalan bersejarah di sekitarnya, bahkan sampai dijuluki sebagai "Surga di bumi".




Danau Sihu atau Danau Barat termasuk "Objek Turisme Pemandangan Utama Nasional China" gelombang pertama dan "Sepuluh Besar Pemandangan China". Pada 24 Juni 2011 Danau Barat dimasukkan dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Danau Sihu atau Danau Barat dikelilingi gunung pada ketiga sisinya. Luas danau ini mencapai 6,5 kilometer persegi, dengan panjang dari utara ke selatan 3,2 kilometer, dan dari timur ke barat 2,8 kilometer. Danau ini dibelah menjadi lima bagian oleh Bukit Gu, Tanggul Bai, Tanggul Su, dan Tanggul Yanggong.




Kelima bagian Danau Barat itu berdasar urutan dari yang terluas sampai terkecil antara lain: Danau Barat Luar, Danau Dalam Barat ("Danau Barat Belakang" atau "Danau Belakang"), Danau Dalam Utara (atau "Danau Barat Dalam"), Danau Selatan Kecil (atau "Danau Selatan"), dan Danau Yue. Bukit Gu adalah pulau alami terbesar yang berada di tengah Danau Barat, sementara Tanggul Bai dan Tanggul Su membentang melintasi danau. Selain itu, masih ada tiga pulau buatan yang berada di Danau Barat Luar, yaitu Xiao Ying Zhou, Hu Xinting, dan Ruan Khong Dun.




Di kedua sisi danau terdapat dua pagoda yang saling berhadapan, yaitu Pagoda Leifeng di atas bukit Xizhao dan Pagoda Baoshu di atas bukit Baoshi. Karena itu, formasi Danau Barat bisa disimpulkan sebagai "satu gunung, dua pagoda, tiga pulau, tiga tanggul, lima danau".




Impresi utama dari Danau Barat adalah gunung menjulang dan danau membentang, merupakan persinggungan antara pemandangan alam dan budaya. Keajaiban Danau Barat terletak pada pemandangan danau yang dikepung gunung, aura danau dan gunung saling menguatkan. Kecantikan Danau Barat adalah permukaan air yang berkilauan di hari cerah dan gunung yang diselimuti kabut di saat hujan. Pemandangan Danau Barat senantiasa berubah bersama imajinasi, baik ketika cuaca cerah maupun mendung, hujan maupun bersalju, pagi maupun senja. Danau Barat memiliki pesona khas untuk tiap musim: bunga-bunga di musim semi, bulan di musim gugur, teratai di musim panas, dan salju di musim dingin.




Tanggul Su membentang melintasi Danau Barat, mencapai 2,8 kilometer dari utara ke selatan. "Di Danau Barat enam jembatan terbentang; berhias dedalu menjulang berseling persik terkembang". Dari selatan sampai utara terdapat sejumlah jembatan terkenal khas Danau Barat yang disebut sebagai "enam jembatan dedalu berkabut", antara lain: Jembatan Yingbo (Pantulan Riak), Suolan (Pengunci Gelombang), Yadi (Tanggul Penolak Bala), Wangshan (Memandang Gunung), Dongpu (Muara Timur), dan Kuahong (Melintas Pelangi).




Nama Tanggul Su ini adalah untuk mengenang jasa pujangga terkenal dari Dinasti Sung Utara, Su Dongpo. Pada saat bertugas sebagai kepala daerah di Hangzhou, Su Dongpo membangun tanggul ini dengan menggali endapan lumpur di dasar danau. Tanggul Su menghubungkan Bukit Selatan dengan Bukit Utara, serta menambah garis yang elok di atas permukaan danau. Selain itu, pohon dan bunga yang menghiasi tanggul juga menyajikan warna-warni berbeda dalam setiap musim. Tak heran pemandangan indah nan puitis ini diposisikan sebagai yang paling utama dari "Sepuluh Pemandangan Danau Barat".




Purnama Musim Gugur di Danau Tenang, letaknya ada di ujung selatan Bukit Gu, menghadap ke Danau Barat Luar. Pemandangan alami di sini dilukiskan dengan bait: "Rupa danau luas membentang tenang laksana cermin, purnama musim gugur paling sempurna dalam setahun". Di sini dibangun koridor yang berkelok-kelok, sederhana namun anggun, dan berakhir pada tiga anjungan yang menjorok ke danau dan menghadap ke arah selatan, sehingga pengunjung dapat menyaksikan pemandangan luas membentang.




Pemandangan Danau Barat dari sini selalu menakjubkan, baik ketika cuaca cerah ataupun hujan. Apalagi ketika duduk di anjungan menikmati terbitnya purnama paling bundar di pertengahan musim gugur yang terpantulkan oleh danau, sehingga tampak bagaikan ada satu bulan di langit dan satu bulan di atas permukaan air yang bersinergi memancarkan sinar. Ditambah dengan pemandangan gunung-gunung berbaris, juga bunga dan pepohonan empat musim, ini sungguh panorama yang teramat puitis.




Angin Teratai di Halaman Chi terletak di tepi Jembatan Hongchun, di Jalan Lingyin kota Hangzhou. Konon pada awal periode Shaoxing Dinasti Sung Selatan, di daerah ini terdapat pabrik yang membuat arak hanya bagi istana, dan di kawasan sekitar pabrik ditanami teratai. Setiap angin musim panas berembus sepoi-sepoi, harumnya teratai bercampur dengan wanginya arak begitu memabukkan, hingga tempat ini dijuluki sebagai "angin teratai di halaman Chi (ragi arak)".




Setelah zaman Dinasti Sung Selatan berakhir, pabrik arak itu juga tinggal sejarah, sehingga pemandangan istimewa ini pun hilang. Pada masa awal Dinasti Ching, dibangun sebuah anjungan baru di sebelah barat Jembatan Melintasi Pelangi, yang juga dipenuhi teratai. Saat Kaisar Kangxi datang berkunjung, nama lokasi ini diubah menjadi "angin teratai di halaman Chi dengan nama Chi yang berarti kelokan. Kaisar Kangxi juga memasukkan lokasi ini dalam sepuluh pemandangan utama, serta mendirikan sebuah anjungan peringatan. Sekarang di sini telah dibangun Taman Angin Teratai di Halaman Chi. 




Jembatan Patah Hati atau The Broken Bridge adalah jalan yang harus dilewati menuju Bukit Gu. Sehabis hujan salju, orang pasti akan berbondong datang untuk menikmati pesona unik pemandangan Danau Barat di musim dingin. Jembatan Patah Hati dipenuhi pengunjung yang mengagumi pemandangan putih sempurna pada Bukit Gu dan Danau Barat Dalam. Itulah sebabnya pemandangan ini dikenal sebagai "Salju Meleleh di Jembatan Patah Hati". 




Menambah romantisme Jembatan Patah Hati atau The Broken Bridge ini adalah kisah legendaris "Legenda Siluman Ular Putih". Konon di atas jembatan inilah si Siluman Ular Putih berjumpa dan berpisah dengan kekasihnya, Xu Xian. Apabila kita berdiri di ujung jembatan, terlihatlah pemandangan rupawan danau di sekeliling dan gunung di kejauhan. Jembatan Patah Hati adalah lokasi paling istimewa untuk mengagumi keindahan pemandangan salju di Danau Barat.






Bahkan dalam novel Revisi ketiga “Pendekar Pemanah Rajawali” atau “Legend Of The Condor Heroes” jilid 3 halaman 117 pun sempat disinggung bahwa kedua tokoh utama, Guo Jing dan Huang Rong pernah berkencan di Jembatan Patah Hati ini sesaat sebelum mereka melihat Wan Yen Hong Lieh dan para pengikutnya sedang berjalan menikmati keindahan Danau Sihu sekaligus mencari tempat disimpannya kitab perang Bubok (Wu Mu Yi Shu) yang menurut kabar ada di Istana Kaisar di Hangzhou.




Didalam novel disebutkan : “Jembatan Patah Hati adalah salah satu tempat terkenal di Danau Barat. Saat itu pertengahan musim panas dan di bawah jembatan penuh bunga teratai. Huang Rong melihat di tepi jembatan ada kedai arak yang mewah. “Mari kita minum arak sambil memandang bunga teratai.”


 Guo Jing and Huang Rong versi 1994


“Bagus,” kata Guo Jing. Mereka masuk dan duduk. Pelayan menghidangkan arak dan makanan. Keduanya minum arak sambil menikmati keindahan teratai. Hati mereka gembira. Huang Rong melihat di jendela yang menghadap ke timur terdapat tirai, di atasnya ada penutup awan hijau. Tampaknya pemilik kedai menghargai benda itu. Rasa ingin tahunya muncul, kemudian ia pergi melihat-lihat. Tampak di bawah tirai puisi “Angin di Pohon Pinus” yang berbunyi : 
 
Sepanjang musim semi kubeli bunga. 
Mabuk di tepi danau hari demi hari.
Kuda putihku hafal jalan ke Danau Barat.
Tiba di depan kedai arak meringkik bangga.
Menyanyi dan menari di keharuman aprikot merah.
Berayun di bayangan pohon liu hijau. 
Angin hangat lima kilo wanita cantik dan langit.
Bunga ditancapkan di rambut pelipis miring. 
Lukisan perahu menyambut musim semi. 
Meninggalkan perasaan di danau berkabut. 
Esok sangga sisa mabuk, 
Datang kembali mencari hiasan rambut.”

Well, itu adalah sepenggal kalimat dalam novel revisi ketiga “Pendekar Pemanah Rajawali” atau “Legend Of The Condor Heroes” karangan Jin Yong yang mengisahkan sedikit tentang Danau Barat atau Danau Sihu. Bahkan dari beberapa baris kalimat itu saja, saya sudah bisa membayangkan keindahan tempat itu. Tak salah rasanya jika Hangzhou dijuluki “Surga di Bumi.”

Credit : CRI + novel Pendekar Pemanah Rajawali revisi Terbaru karya Jin Yong.

Minggu, 21 September 2014

(Photos) Mercury Hostel Singapore @ Lavender Rd

Selama 3 hari 2 malam, saya menginap di Mercury Hostel yang terletak di jalan Lavender Rd, Singapore. Walau terbilang sebagai penginapan sederhana, tapi Mercury Hostel cukup memuaskan karena kamarnya yang tergolong sangat bersih, dingin dan rapi. Lobby hostel walau terbilang kecil namun memberikan nuansa kenyamanan, setiap pagi, tamu diijinkan membuat sendiri sarapan pagi yang berupa roti bakar dan secangkir kopi atau teh. Tentu tidak ada chef di sini seperti layaknya hotel berbintang, apa yang bisa Anda harapkan dari sebuah hostel sederhana, benarkan? Tapi setidaknya bagi saya, asal kamar hostelnya bersih dan rapi, bagi saya tak masalah ada chef atau tidak, tidak masalah ada kolam renang atau tidak, selama saya pribadi bisa tidur dengan nyenyak, bisa mandi dan membersihkan diri dengan nyaman dan melepas lelah setelah seharian berjalan-jalan, tak perlu hotel berbintang untuk itu semua. Toh kalau ikut tour kan berangkat pagi-pagi sekali dan pulang tengah malam, sampai hostel pun uda capek banget dan langsung bobok. Kalau cuma buat numpang tidur doank, asal ada kasur empuk, gak perlu hotel berbintang pun tak masalah.



Mercury Hostel bisa ditempuh dengan menaiki MRT dan melewati sekitar 7 kali pemberhentian kereta yaitu : Tanah Merah, Bedok, Kembangan, Eunos, Paya Lebar, Aljunied, Kallang, hingga akhirnya kami tiba di Lavender Rd pada pemberhentian yang ke 8.



Hostel kami, Mercury Hostel adalah sebuah penginapan kecil yang terletak di pinggir jalan Lavender Rd di mana di seberang jalan penginapan terdapat halte bus yang akan mengantar kami ke semua tempat wisata. Lokasi penginapan tersebut bisa dibilang memang sangat strategis karena terletak di tengah kota Singapura, dan berada tepat di seberang halte bus.

Halte bus tepat di sebrang Mercury Hostel.


Tuh suasana pagi hari pukul 07.00 di Singapura. Matahari masih belum nongol oi. Foto diambil  dari lantai 4 (kamarku) sesaat sebelum berangkat ke Airport dan kembali ke Indonesia. Matahari di Singapore males banget, jam 07.00 masih belum keliatan ckckckck...
 
Mercury Hostel, walau tidak terlalu mewah dan cenderung biasa saja, tapi lokasinya yang strategis di tengah kota, tepat berada di depan halte bus, dan hanya 10 menit berjalan ke stasiun MRT serta kamarnya yang bersih, rapi dan nyaman, sudah cukup membuat saya puas. Recomended banget bagi kalian yang hobi ber-backpacker ria karena hostel ini cenderung murah dan pas di kantong anak muda yang hobi backpacker dan lebih mengutamakan penghematan, namun tidak melupakan masalah kenyamanan dan kebersihan serta kerapihan.



But btw, sialnya saya mendapat kamar di lantai 4 tepatnya di kamar nomer 431 dan setiap hari selama 3 hari 2 malam, saya harus naik turun tangga sebanyak 4 lantai. Fiuuhh...habis jalan-jalan seharian, pulang ke hostel harus naik tangga 4 lantai *elap keringat* Gak papa dah, gue sehat pulang dari Singapore hahaha =)



Lorong kamarku.. Foto diambil saat pagi-pagi buta sesaat sebelum berangkat ke Airport dan pulang ke Indonesia, jadi maklum kalau gelap ya. Masih pagi oiii ^.^
 
Berikut ini adalah foto-foto yang saya ambil di dalam hostel, kamar hostel dan wilayah sekitar hostel :



My room. Kecil memang, tapi bersih dan rapi


Sharing bathroom. Bangun pagi jam 5 biar gak rebutan dengan tamu lain

 




Suasana di atap saat siang hari






Credit: Liana Hwie